Bingung pilih metode las? Pelajari jenis jenis las listrik dan cara memilih kawat las elektroda sesuai material, posisi, dan ketebalan kerja.
Di dunia fabrikasi, “las listrik” sering disebut seolah hanya satu metode. Padahal kenyataannya ada banyak proses berbeda yang sama-sama memakai energi listrik sebagai sumber panas. Perbedaannya bukan sekadar nama, tetapi berpengaruh langsung ke hasil sambungan, biaya produksi, kecepatan kerja, sampai risiko cacat las.
Sebagai gambaran teknis yang sering jadi pembuka diskusi di workshop: temperatur inti busur listrik bisa berada di kisaran 6.000°C, sementara baja umumnya mulai meleleh pada rentang sekitar 1.370–1.540°C.
Itulah alasan mengapa proses las berbasis listrik sangat efektif untuk menyambung logam, tetapi juga “sensitif”: beda metode, beda karakter busur, beda perlindungan logam cair, dan beda kebutuhan kawat las atau consumable.
Artikel ini membahas jenis jenis las listrik secara praktis untuk kebutuhan lapangan dan industri: definisi singkat tiap proses, kapan dipakai, apa plus-minusnya, dan bagaimana cara memilih kawat las sesuai pekerjaan agar hasilnya kuat, rapi, dan minim rework.
Table of Contents
ToggleJenis Jenis Las Listrik
Saat orang mencari jenis jenis las listrik, biasanya yang dicari bukan teori panjang, tetapi peta yang jelas: proses apa saja yang termasuk las listrik dan apa bedanya.
Secara umum, kelompok besarnya dapat dibagi menjadi: las busur listrik (arc welding), las tahanan listrik (resistance welding), las plasma, dan las stud.
1. Las Busur Listrik (Arc Welding)
Las busur listrik adalah kelompok proses yang memanfaatkan busur listrik (arc) antara elektroda dan benda kerja untuk mencairkan logam dasar dan (jika digunakan) logam pengisi. Ini yang paling umum dijumpai di bengkel, proyek konstruksi, hingga pabrik.
SMAW / Las Elektroda (Stick Welding)
SMAW (Shielded Metal Arc Welding) adalah proses las dengan elektroda terbungkus flux. Bungkus flux akan menghasilkan gas pelindung dan slag saat meleleh, sehingga kolam las terlindungi dari udara.
Kapan SMAW paling masuk akal:
Pekerjaan lapangan, perbaikan, maintenance, dan proyek konstruksi.
Area kerja yang tidak ideal untuk gas shielding (angin, outdoor).
Material umum seperti baja karbon, baja paduan tertentu, dan beberapa elektroda khusus untuk besi tuang atau hardfacing.
Kelebihan SMAW:
Mesin relatif sederhana, mobilitas tinggi.
Fleksibel untuk banyak posisi dan kondisi lapangan.
Variasi elektroda sangat luas (untuk mild steel, low hydrogen, stainless, cast iron, hardfacing).
Keterbatasan SMAW:
Ada slag yang harus dibersihkan, waktu kerja lebih panjang.
Produktivitas per jam biasanya di bawah MIG/FCAW.
Kualitas sangat tergantung skill operator, pemilihan elektroda, dan kontrol panas.
Catatan praktis: SMAW sering dipilih karena “paling bisa diandalkan” di lapangan, tapi supaya efisien, pemilihan diameter elektroda dan setting arus harus tepat agar tidak sering lengket atau spatter berlebihan.
GMAW / MIG-MAG
GMAW (Gas Metal Arc Welding) menggunakan kawat las gulungan yang keluar otomatis melalui torch.
Perlindungan kolam las berasal dari gas pelindung. Di lapangan, orang sering menyebutnya MIG, padahal istilah yang lebih tepat adalah:
MIG: memakai gas inert (misalnya argon) untuk material tertentu.
MAG: memakai gas aktif (misalnya CO₂ atau campuran) yang umum untuk baja karbon.
Kapan MIG-MAG paling cocok:
Produksi fabrikasi yang mengejar kecepatan dan konsistensi.
Pekerjaan rangka, bracket, frame, dan komponen repetitif.
Ketika ingin hasil rapi dengan pembersihan minimal (tanpa slag seperti SMAW).
Kelebihan MIG-MAG:
Kecepatan deposisi tinggi, cocok produksi.
Mudah distandarkan (setting wire speed, voltage, gas flow).
Hasil rapi dan relatif mudah untuk operator yang sudah dilatih.
Keterbatasan MIG-MAG:
Lebih sensitif angin (gas shielding bisa terganggu).
Butuh pengaturan yang tepat agar tidak porositas, spatter, atau lack of fusion.
Perlu suplai gas dan perawatan liner/drive roll.
Di industri, MIG-MAG sering jadi tulang punggung karena stabil untuk produksi, terutama bila SOP dan parameter dijaga konsisten.
GTAW / TIG (Las Argon)
GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) atau TIG menggunakan elektroda tungsten (tidak habis) dan gas pelindung (umumnya argon). Logam pengisi bisa ditambahkan terpisah jika dibutuhkan.
Kapan TIG dipilih:
Sambungan yang menuntut kebersihan dan kontrol tinggi.
Stainless steel, aluminium, atau material yang sensitif terhadap kontaminasi.
Root pass tertentu yang butuh penetrasi dan kontrol kolam las.
Kelebihan TIG:
Hasil sangat rapi dan presisi.
Kontrol panas baik, cocok untuk material tipis dan pekerjaan detail.
Spatter minimal.
Keterbatasan TIG:
Lebih lambat dibanding MIG/FCAW.
Butuh skill dan disiplin kebersihan yang tinggi.
Biaya kerja bisa lebih mahal bila targetnya produksi cepat.
TIG bukan berarti “lebih kuat dari semua proses”, tetapi unggul saat kebutuhan utama adalah kualitas visual, kontrol, dan kebersihan sambungan.
FCAW (Flux-Cored Arc Welding)
FCAW (Flux-Cored Arc Welding) memakai kawat inti flux. Ada dua varian utama:
FCAW-G: memakai gas pelindung tambahan.
FCAW-S: self-shielded (tanpa gas), perlindungan berasal dari flux.
Kapan FCAW banyak dipakai:
Struktur baja, shipyard, heavy fabrication, dan pekerjaan tebal.
Kebutuhan deposisi tinggi dan produktivitas.
Kondisi lapangan tertentu (FCAW-S bisa membantu saat gas sulit).
Kelebihan FCAW:
Deposisi tinggi, produktivitas bagus.
Penetrasi dan performa pada material tebal umumnya baik.
Lebih “tahan kondisi” dibanding MIG pada beberapa situasi.
Keterbatasan FCAW:
Ada slag (mirip SMAW) pada banyak jenis kawat flux-cored.
Asap las dan spatter bisa lebih tinggi tergantung tipe kawat dan setting.
Perlu disiplin parameter agar hasil konsisten.
Jika targetnya output tinggi namun tetap ingin stabil, FCAW sering jadi pilihan logis di industri berat.
SAW (Submerged Arc Welding)
SAW (Submerged Arc Welding) adalah las busur yang “tenggelam” di bawah serbuk flux. Busur tidak terlihat langsung karena tertutup flux, menghasilkan deposisi yang sangat tinggi dan kualitas yang konsisten untuk aplikasi tertentu.
Kapan SAW dipakai:
Produksi industri skala besar: pipa, bejana tekan, girder, H-beam.
Sambungan panjang (long seam) dan pekerjaan repetitif.
Saat targetnya produktivitas tinggi dan konsistensi.
Kelebihan SAW:
Deposisi sangat tinggi, cocok untuk jalur las panjang.
Perlindungan flux sangat baik, hasil stabil.
Efisiensi tinggi untuk produksi.
Keterbatasan SAW:
Umumnya terbatas pada posisi tertentu (sering datar atau pada sistem rotator).
Setup peralatan lebih besar dan kurang fleksibel untuk lapangan.
Tidak praktis untuk pekerjaan kecil atau banyak posisi.
SAW adalah “senjata produksi” di lingkungan pabrik, bukan untuk pekerjaan serba bisa seperti SMAW.
2. Las Tahanan Listrik (Resistance Welding)
Resistance welding memanfaatkan panas dari tahanan listrik pada titik kontak, ditambah tekanan dari elektroda.
Berbeda dari arc welding, proses ini tidak mengandalkan busur yang terbuka. Banyak dipakai di industri manufaktur, terutama untuk pelat tipis dan produksi massal.
Spot Welding
Spot welding menyambung material dengan “titik” las menggunakan dua elektroda yang menekan lembaran logam, lalu arus besar dialirkan dalam waktu singkat.
Umum dipakai untuk:
Body otomotif, panel, kabinet, komponen sheet metal.
Kelebihan:
Sangat cepat untuk produksi.
Tidak butuh filler wire pada banyak aplikasi.
Konsisten bila parameter dan tekanan stabil.
Keterbatasan:
Terbatas untuk ketebalan dan desain sambungan tertentu.
Butuh akses dari dua sisi untuk elektroda pada banyak kasus.
Seam Welding
Seam welding adalah pengembangan spot welding, memakai roda elektroda yang berputar sehingga menghasilkan “jalur” sambungan kontinu.
Umum dipakai untuk:
Tangki tipis, drum, produk sheet metal yang butuh sambungan panjang rapat.
Kelebihan:
Jalur sambungan kontinu, produktif.
Cocok untuk produksi repetitif.
Keterbatasan:
Setup mesin spesifik.
Tidak fleksibel untuk bentuk sambungan yang kompleks.
Projection Welding
Projection welding memanfaatkan tonjolan (projection) pada salah satu komponen untuk memusatkan panas di titik tertentu, misalnya untuk pengelasan mur, baut, atau stud kecil pada pelat.
Kelebihan:
Titik las lebih terkontrol pada lokasi yang diinginkan.
Cocok untuk komponen fastener pada sheet metal.
Keterbatasan:
Membutuhkan desain projection yang tepat.
Kontrol kualitas sangat dipengaruhi tekanan, arus, dan kondisi permukaan.
3. Las Plasma (PAW – Plasma Arc Welding)
PAW (Plasma Arc Welding) adalah turunan dari TIG, namun busurnya “dikonsentrasikan” melalui nozzle sehingga menjadi plasma yang lebih terfokus dan stabil pada aplikasi tertentu.
Kapan PAW relevan:
Pekerjaan presisi industri, komponen khusus, dan kebutuhan konsistensi busur pada setting tertentu.
Aplikasi yang butuh kontrol lebih tinggi daripada TIG konvensional dalam kondisi tertentu.
Kelebihan:
Busur stabil dan terfokus.
Kontrol yang baik untuk beberapa aplikasi presisi.
Keterbatasan:
Peralatan lebih kompleks dan biaya investasi lebih tinggi.
Tidak selalu diperlukan untuk pekerjaan bengkel umum.
4. Las Stud (Stud Welding)
Stud welding adalah proses menyambung stud/baut ke pelat menggunakan energi listrik, umumnya sangat cepat dan efisien untuk aplikasi konstruksi atau fabrikasi tertentu.
Kapan dipakai:
Pemasangan stud pada struktur, deck, panel, atau komponen yang membutuhkan banyak titik stud.
Kelebihan:
Cepat, produktif, dan konsisten untuk pekerjaan massal.
Mengurangi kebutuhan pengeboran dan pemasangan mekanis.
Keterbatasan:
Membutuhkan peralatan khusus dan stud yang sesuai.
Kondisi permukaan dan parameter sangat memengaruhi hasil.
Cara Memilih Kawat Las Sesuai Pekerjaan
Memahami jenis jenis las listrik saja belum cukup. Di lapangan, yang menentukan hasil sering kali adalah pemilihan consumable yang tepat.
Berikut panduan praktis memilih kawat las atau elektroda sesuai kebutuhan kerja.
Tentukan material dasar dan kebutuhannya
Baja karbon rendah (mild steel): umumnya paling fleksibel, pilihan elektroda paling banyak.
Baja kekuatan tinggi atau struktur kritikal: sering butuh elektroda low hydrogen dan kontrol prosedur lebih ketat.
Stainless steel: butuh filler yang sesuai grade agar sifat korosi dan kekuatan tetap terjaga.
Besi tuang: membutuhkan elektroda khusus (misalnya berbasis nikel) dan kontrol panas/pendinginan.
Kenali posisi pengelasan dan kondisi lapangan
Outdoor berangin: SMAW atau FCAW-S sering lebih aman daripada MIG/TIG karena gas shielding mudah terganggu.
Banyak posisi (vertical/overhead): pilih elektroda atau kawat yang memang dirancang untuk all position dan sesuaikan parameter.
Sesuaikan ketebalan material dengan proses dan diameter consumable
Material tipis: butuh kontrol panas yang baik agar tidak burn-through. TIG atau MIG dengan setting tepat biasanya unggul.
Material tebal: pertimbangkan deposisi tinggi (FCAW/SAW) atau SMAW dengan prosedur multi-pass yang benar.
Tentukan target hasil: cepat atau super rapi
Target produksi cepat: MIG-MAG atau FCAW biasanya efektif.
Target visual rapi dan presisi: TIG unggul.
Target serba bisa di lapangan: SMAW sering jadi pilihan utama.
Perhatikan tuntutan kualitas dan inspeksi
Jika sambungan masuk area kritikal (struktur tertentu, bejana tekan, atau standar QC ketat), pemilihan elektroda, prosedur, penyimpanan consumable, serta disiplin parameter menjadi lebih penting dibanding “sekadar bisa nempel”.
Rekomendasi Kawat Las Elektroda untuk Las Listrik
Bagian ini difokuskan untuk kebutuhan yang paling umum di lapangan: las listrik tipe SMAW (las elektroda).
Berikut adalah beberapa rekomendasi kawat las elektroda untuk las listrik, yaitu:
1. Kawat Las RB-26 KOBE (AWS A5.1 E6013)
Kawat las FAMILIARC RB-26 adalah pilihan aman untuk pekerjaan harian di bengkel dan fabrikasi baja karbon. Karakternya mudah dinyalakan, slag mudah terkelupas, dan hasil manik cenderung rapi sehingga cocok untuk operator pemula sampai menengah.
RB-26 juga fleksibel karena bisa dipakai dengan mesin AC maupun DC. Ukuran yang tersedia mencakup 2.0 mm sampai 5.0 mm sehingga mudah menyesuaikan ketebalan material dan kebutuhan kerja.
Kapan dipilih:
Pagar, rangka, bracket, kanopi, pekerjaan konstruksi ringan
Material mild steel dan pekerjaan multipurpose saat butuh hasil rapi dan cepat
2. Kawat Las MS-77 KOBELCO (AWS A5.1 E6013)
Kawat las MS-77 sama-sama E6013, namun banyak dipilih ketika Anda ingin rasa busur yang stabil dan kontrol manik yang nyaman untuk kerja rutin.
Produk ini ditujukan untuk mild steel (baja karbon rendah–sedang) dengan ukuran 2.6 mm, 3.2 mm, dan 4.0 mm. Cocok untuk fabrikasi harian yang butuh konsistensi, terutama pada produksi kecil–menengah
Kapan dipilih:
Bracket, panel ringan, fabrikasi mild steel yang repetitif
Saat operator mengutamakan stabilitas arc dan hasil bead yang halus
3. Kawat Las B-17 KOBE STEEL (AWS A5.1 E6019)
Kawat las B-17 adalah elektroda untuk baja karbon dengan klasifikasi E6019. Di halaman produk, B-17 disebut cocok untuk pengelasan pelat hingga sekitar 25 mm dan tersedia ukuran 2.6 mm, 3.2 mm, 4.0 mm.
Ini relevan untuk pekerjaan yang mengarah ke material lebih tebal atau kebutuhan deposit yang lebih “berisi” pada aplikasi konstruksi dan fabrikasi tertentu, tetap dengan fleksibilitas polaritas AC/DCEP/DCEN.
Kapan dipilih:
Fabrikasi baja karbon ringan–menengah, termasuk saat ketebalan kerja cenderung lebih besar
Saat butuh performa yang stabil untuk pekerjaan konstruksi/fabrikasi umum
4. Kawat Las LB-52 KOBE STEEL (AWS A5.1 E7016)
Kawa las KOBE LB-52 adalah elektroda low hydrogen E7016 yang ditujukan untuk sambungan yang menuntut ketangguhan lebih baik dan membantu menurunkan risiko retak hidrogen pada kondisi tertentu.
Karakter busurnya halus dan spatter relatif minim, serta slag mudah lepas sehingga mendukung pekerjaan multi-pass yang konsisten.
Kapan dipilih:
Struktur, fabrikasi yang lebih serius (bukan sekadar pekerjaan ringan)
Sambungan dengan restrain lebih tinggi atau saat mengikuti kebutuhan WPS yang mengarah ke low hydrogen
5. Kawat Las LB-52-18 KOBE STEEL (AWS A5.1 E7018)
Kawat las KOBE LB-52-18 adalah elektroda low hydrogen tipe E7018 untuk baja karbon dan baja tarik tinggi (hingga kelas sekitar 490 MPa pada deskripsi kategori/produk).
Umumnya E7018 dipakai ketika dibutuhkan sifat mekanik yang lebih tinggi dan pendekatan prosedur yang lebih disiplin (kebersihan, kontrol panas, dan penyimpanan).
Kapan dipilih:
Konstruksi dan fabrikasi yang menuntut kekuatan sambungan lebih tinggi
Aplikasi yang mengarah ke standar kerja/WPS yang mensyaratkan E7018
6. Kawat Las LB-52U KOBE STEEL (AWS A5.1 E7016)
Kawat las KOBE LB-52U dijelaskan sebagai elektroda low hydrogen yang dirancang khusus untuk pekerjaan root pass (lapisan akar) pada pipa dan struktur baja karbon dengan posisi semua arah, dengan penetrasi yang dalam dan bead akar yang halus serta konsisten.
Ini sangat relevan untuk pekerjaan pipa (terutama saat akses terbatas) dan aplikasi yang menuntut kontrol root yang rapi.
Kapan dipilih:
Root pass pipa, sambungan pipa dengan akses terbatas
Pekerjaan oil & gas/petrokimia atau fabrikasi pipa yang membutuhkan hasil akar konsisten
7. KOBE-6010 dan KOBE-7010S
Di halaman “Produk Kami”, INTIWI juga mencantumkan KOBE-6010 dan KOBE-7010S sebagai bagian dari keluarga elektroda SMAW untuk baja lunak & baja tarik tinggi.
Jika Anda mengerjakan pekerjaan yang butuh karakter khusus sesuai kelas elektroda tersebut, dua seri ini bisa jadi opsi yang relevan untuk didiskusikan berdasarkan kebutuhan WPS dan jenis sambungan.
Kapan dipertimbangkan:
Saat WPS/pekerjaan mengarah ke kebutuhan kelas elektroda tertentu dan Anda butuh opsi selain E6013/E7016/E7018
Selain daftar rekomendasi kawat las listrik di atas, intanpertiwi.co.id juga menyediakan berbagai jenis kawat las listrik lainnya untuk kebutuhan yang lebih spesifik, mulai dari pekerjaan fabrikasi harian, konstruksi, maintenance, hingga aplikasi industri tertentu.
Dengan pilihan tipe dan spesifikasi yang beragam, Anda bisa menjadikannya sebagai bahan pertimbangan untuk menyesuaikan elektroda dengan material, posisi pengelasan, ketebalan, serta target kualitas sambungan yang dibutuhkan di lapangan.
Kesimpulan
Jenis jenis las listrik sebenarnya membuka satu pesan penting: las listrik bukan satu metode tunggal.
Ada arc welding (SMAW, MIG-MAG, TIG, FCAW, SAW) yang umum di bengkel dan industri, ada resistance welding (spot, seam, projection) untuk produksi sheet metal, ada plasma untuk aplikasi tertentu, dan ada stud welding untuk pemasangan stud yang cepat.
Pilihan proses yang tepat akan lebih efektif jika diikuti pemilihan kawat las atau elektroda yang sesuai pekerjaan.
Dengan kombinasi proses yang benar, consumable yang tepat, dan parameter yang disiplin, hasil las bisa lebih kuat, rapi, dan minim perbaikan ulang.
Intanpertiwi.co.id melayani kebutuhan elektroda KOBELCO untuk bengkel, fabrikasi, hingga industri, dengan dukungan ketersediaan produk dan konsultasi pemilihan tipe elektroda sesuai material serta aplikasi kerja Anda.
Untuk pemesanan kawat las listrik elektroda, Anda bisa langsung menghubungi dan order melalui laman kontak kami.
FAQs Seputar Jenis Las Listrik
1. Apa saja jenis jenis las listrik yang paling umum dipakai?
Jenis jenis las listrik yang paling umum dibagi menjadi 4 kelompok: las busur listrik (arc welding) seperti SMAW, MIG-MAG, TIG, FCAW, SAW; las tahanan listrik (resistance welding) seperti spot, seam, projection; las plasma (PAW); dan las stud (stud welding) untuk pemasangan baut/stud secara cepat.
2. Apa perbedaan SMAW, MIG-MAG, dan TIG dalam praktik?
SMAW memakai elektroda berflux dan cocok untuk kerja lapangan karena relatif tahan angin, tetapi ada slag yang harus dibersihkan. MIG-MAG memakai kawat gulungan dan gas pelindung, lebih cepat dan rapi untuk produksi, namun sensitif terhadap angin. TIG memakai tungsten dan gas argon, paling presisi dan rapi, tetapi lebih lambat dan membutuhkan skill lebih tinggi.
3. Kapan sebaiknya memilih resistance welding seperti spot atau seam welding?
Resistance welding seperti spot atau seam paling tepat untuk produksi sheet metal (pelat tipis) yang butuh kecepatan dan konsistensi, misalnya panel otomotif, kabinet, atau tangki tipis. Proses ini mengandalkan tahanan listrik dan tekanan, bukan busur terbuka seperti arc welding.
4. Bagaimana cara memilih kawat las elektroda yang tepat untuk las listrik?
Pilih kawat las elektroda berdasarkan 4 hal: material (mild steel, stainless, besi tuang), posisi pengelasan (datar, vertikal, overhead), ketebalan material, dan target kualitas (produksi cepat atau sambungan kritikal). Jika pekerjaan menuntut ketangguhan dan risiko retak lebih rendah, pertimbangkan elektroda low hydrogen seperti E7016/E7018; untuk pekerjaan mild steel harian, elektroda E6013 umumnya lebih praktis.
5. Elektroda apa yang cocok untuk mild steel pekerjaan harian di bengkel?
Untuk mild steel pekerjaan harian, elektroda E6013 biasanya paling praktis karena mudah dinyalakan dan hasil manik cenderung rapi. Di INTIWI, contoh yang umum dipakai untuk kebutuhan ini adalah RB-26 dan MS-77 (keduanya kelas E6013) yang cocok untuk fabrikasi umum seperti rangka, bracket, dan pekerjaan konstruksi ringan.






