Apa Itu DCEP dalam Pengelasan? Fungsi dan Kapan Dipakai

Kalau kamu sedang mencari apa itu DCEP dalam pengelasan, jawabannya sederhana: DCEP adalah polaritas arus DC di mana elektroda terhubung ke terminal positif (plus) dan klem massa terhubung ke terminal negatif (minus). DCEP juga sering disebut DC plus, atau DC reverse polarity (DCRP). Pada praktiknya, DCEP dipakai sangat sering pada pengelasan SMAW (las listrik) karena membantu mendapatkan busur stabil, bead rapi, spatter lebih terkendali, dan penetrasi yang baik pada banyak aplikasi, selama sesuai rekomendasi elektroda. Agar artikel ini benar benar kepakai di lapangan, kita bahas definisi, cara setting kabel, perbedaan DCEP dengan DCEN dan AC, dampaknya ke hasil las, sampai troubleshooting kalau hasil las terasa “aneh” karena polaritas keliru. Apa Itu DCEP dalam Pengelasan? DCEP (Direct Current Electrode Positive) adalah kondisi saat elektroda positif dan benda kerja negatif pada mesin las DC. Artinya: Holder atau stang elektroda masuk ke terminal positif (plus) Klem massa atau ground clamp masuk ke terminal negatif (minus) Dalam sumber teknis, kamu juga akan menemukan istilah yang artinya sama: DCRP: Direct Current Reverse Polarity, sama dengan DCEP DC plus: istilah bengkel yang merujuk ke DCEP Cara Setting DCEP di Mesin Las Inverter Bagian ini yang paling sering bikin bingung pemula karena beda istilah antara teori dan kondisi terminal mesin. 1) Pasang kabel dengan urutan yang benar Masukkan kabel holder ke terminal bertanda plus Masukkan kabel massa ke terminal bertanda minus 2) Pastikan titik massa benar Banyak masalah arc tidak stabil bukan karena polaritas, tapi karena massa jelek. Jepit klem massa di besi bersih tanpa cat, karat, oli, atau kerak Letakkan massa sedekat mungkin dengan area pengelasan 3) Cek label polaritas di kemasan elektroda Untuk SMAW, rekomendasi polaritas biasanya tertulis di dus elektroda. Jika kemasannya menulis “AC atau DCEP”, maka DCEP aman dipakai. Kalau tertulis “DCEP only”, jangan dipaksa DCEN. Prinsip Kerja DCEP dan Dampaknya ke Hasil Las Polarity itu bukan sekadar “tukar kabel”, tapi berpengaruh ke karakter busur, transfer logam cair, dan hasil sambungan. Pada DCEP, banyak referensi menjelaskan bahwa panas busur cenderung lebih besar di elektroda dibanding benda kerja. Dampaknya, banyak elektroda SMAW jadi terasa lebih mudah dikontrol dan busur lebih halus, tergantung tipe flux coating. Yang paling penting untuk kamu pegang: DCEP sering memberi busur lebih stabil dan bead lebih enak dibentuk Pada banyak kondisi SMAW, DCEP juga dipakai saat butuh penetrasi yang kuat dan hasil yang konsisten, terutama pada elektroda tertentu Catatan penting: hasil akhir tetap dipengaruhi oleh jenis kawat las SMAW, diameter, ampere, posisi, dan kebersihan material. Perbedaan DCEP, DCEN, dan AC dalam Pengelasan Berikut ringkasan yang paling sering dicari user saat mengetik “DCEP vs DCEN” atau “polaritas las DC plus dan minus”. Parameter DCEP (elektroda plus) DCEN (elektroda minus) AC Koneksi kabel Holder ke plus, massa ke minus Holder ke minus, massa ke plus Berubah tiap siklus Stabilitas busur Umumnya stabil pada banyak elektroda Bisa lebih sensitif tergantung elektroda Stabil untuk elektroda yang memang dirancang AC Penetrasi Sering dipilih saat butuh penetrasi kuat pada SMAW, tergantung elektroda Sering terasa lebih “lembut” pada pelat tipis atau kontrol kolam, tergantung elektroda Umumnya di tengah, dan membantu mengurangi arc blow Spatter Cenderung lebih terkendali pada banyak kasus Bisa meningkat jika elektroda tidak cocok Tergantung elektroda, kadang lebih mudah untuk kondisi tertentu Kapan dipakai Umum pada SMAW dan banyak elektroda low hydrogen Dipakai jika elektroda mendukung dan butuh kontrol tertentu Berguna saat sumber listrik AC, atau untuk mengurangi arc blow Kapan DCEP Sebaiknya Dipakai? Berikut situasi yang paling sering membuat DCEP menjadi pilihan utama pada SMAW. 1) Saat butuh busur stabil dan hasil bead rapi Jika kamu mengejar tampilan bead lebih smooth dan kontrol busur lebih mudah, DCEP sering jadi default pada banyak elektroda SMAW. 2) Saat pekerjaan struktural dan WPS mengarah ke DCEP Pada pekerjaan yang mengikuti prosedur las, sering kali polaritas sudah ditentukan. DCEP umum dipakai pada banyak elektroda kelas low hydrogen, dan juga pada beberapa elektroda khusus pipa yang memang didesain DCEP only. 3) Saat memakai elektroda yang memang dirancang DCEP only Contoh kategori yang sering disebut adalah beberapa elektroda selulosa untuk pipa, dan beberapa elektroda paduan tertentu. Kalau elektrodanya DCEP only, memaksa DCEN biasanya membuat arc tidak enak, spatter tinggi, atau slag kacau. DCEP Cocok untuk Elektroda Apa? Ini bagian yang paling menentukan performa. Pada SMAW, bukan semua elektroda bebas dipakai di semua polaritas. Elektroda SMAW yang sering berjalan baik di DCEP Low hydrogen (contoh kelas E7018, E7016 pada banyak merek)Banyak referensi menyebut low hydrogen idealnya jalan di DCEP, walau beberapa varian juga bisa AC. DCEP sering memberi arc lebih halus dan hasil bead lebih bagus. Banyak elektroda serbaguna tertentuBeberapa elektroda seperti kelas E6013 pada sebagian produk bisa jalan di AC, DCEP, maupun DCEN, meski karakter hasilnya berbeda. Kenapa tetap harus lihat kemasan elektroda? Karena “kode AWS” memberi gambaran umum, tapi formula flux tiap pabrikan bisa berbeda. Cara paling aman: Baca label di dus elektroda Ikuti rekomendasi polaritas dan rentang arusnya Dampak DCEP ke Masalah yang Sering Dialami Pemula Banyak orang mencari “apa itu DCEP dalam pengelasan” karena ada problem nyata: elektroda nempel, spatter parah, atau hasil tidak nyatu. Berikut dampak yang sering terasa di lapangan. 1) Elektroda sering nempel Penyebab paling umum: Ampere terlalu rendah Permukaan kotor atau massa jelek Arc length kependekan Elektroda tidak cocok dengan polaritas yang dipakai Solusi cepat: Pastikan massa menempel di besi bersih Naikkan ampere sedikit demi sedikit Cek rekomendasi polaritas di kemasan elektroda 2) Spatter berlebihan dan busur “meledak” Penyebab umum: Arc terlalu panjang Ampere terlalu tinggi Polaritas tidak sesuai elektroda Solusi cepat: Pendekkan arc length Turunkan ampere sedikit Jika elektrodanya serbaguna, coba DCEP yang sering memberi arc lebih stabil pada banyak kasus SMAW 3) Penetrasi terasa kurang atau sambungan tidak menyatu Penyebab umum: Travel speed terlalu cepat Ampere kurang Sudut elektroda salah Persiapan kampuh kurang Salah pilih polaritas untuk jenis elektroda Solusi cepat: Sesuaikan ampere sesuai diameter dan rekomendasi pabrikan Atur sudut elektroda dan kecepatan gerak Pastikan polaritas sesuai label elektroda Checklist Setting DCEP yang Benar Sebelum Mulai Ngelas Kalau kamu ingin proses lebih konsisten, lakukan checklist ini: Holder ke plus, massa ke minus Massa menjepit besi bersih tanpa cat dan karat
Cara Las Listrik yang Benar Agar Hasil Las Rapi dan Kuat

Apakah Anda masih bingung cara las listrik yang benar supaya elektroda tidak nempel, spatter tidak berlebihan, dan hasil las terlihat rapi serta kuat? Banyak pemula merasa sudah menyalakan busur dengan benar, tetapi hasilnya tetap tidak konsisten karena ada beberapa detail kecil yang sering terlewat, seperti pemilihan diameter elektroda, setting ampere yang kurang pas, permukaan material yang masih kotor, atau jarak busur yang terlalu jauh Pendahuluan Mencari cara las listrik yang benar itu wajar, karena las SMAW sering terlihat “gampang” tetapi hasilnya bisa sangat berbeda tergantung teknik dan setting. Salah sedikit, elektroda jadi nempel, spatter berlebihan, bead menggumpal, atau sambungan terlihat rapi tetapi ternyata penetrasinya dangkal. Di sisi keselamatan, kerja pengelasan juga termasuk pekerjaan berisiko. Data global dari organisasi ketenagakerjaan menyebut sekitar 2.93 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat faktor terkait pekerjaan, dan sekitar 395 juta pekerja mengalami cedera kerja non fatal setiap tahun. Angka lain dari lembaga keselamatan kerja juga menyebut sekitar 2,000 kasus cedera mata terkait kerja yang membutuhkan perawatan medis setiap hari di Amerika Serikat. Statistik ini jadi pengingat bahwa target kita bukan hanya rapi, tetapi juga aman. Di panduan ini, Anda akan belajar cara las listrik yg benar dengan urutan yang mudah diikuti: mulai dari memahami “kawat las” pada SMAW, memilih elektroda dan diameternya, menyetel arus dan polaritas, menyalakan busur, menjaga jarak dan sudut, mengontrol gerakan, sampai membersihkan slag dengan benar. Jika Anda butuh cara mengelas yang benar menggunakan las listrik untuk pekerjaan bengkel, konstruksi ringan, atau latihan, artikel ini bisa jadi pegangan praktik. Pengertian Kawat Las Di lapangan, istilah “kawat las” untuk las listrik biasanya merujuk pada elektroda SMAW. Elektroda adalah batang logam inti yang dilapisi flux. Saat Anda mengelas, inti elektroda ikut meleleh menjadi logam pengisi, sedangkan flux membantu membentuk pelindung pada kolam las dan menghasilkan slag yang menutup permukaan las saat pendinginan. Poin pentingnya: Elektroda bukan sekadar “bahan habis pakai”, tetapi penentu karakter busur, penetrasi, dan kemudahan slag lepas. Setiap jenis elektroda punya rekomendasi arus dan kadang rekomendasi polaritas tertentu. Karena itu, memahami elektroda adalah langkah awal cara menggunakan las listrik yang benar agar hasil tidak bergantung pada coba coba. Cara Las Listrik yang Benar Berikut adalah cara las listrik yang benar, yaitu: 1. Pilih Elektroda yang Sesuai Material Langkah paling dasar tetapi sering disepelekan. Untuk baja karbon ringan dan latihan umum, banyak welder memilih E6013 karena busurnya cenderung mudah dinyalakan dan lebih mudah dikontrol. Untuk kebutuhan lain, pemilihan bisa berbeda tergantung kondisi kerja, posisi, dan tuntutan kekuatan sambungan. Panduan praktis memilih elektroda: Baja karbon ringan dan fabrikasi harian: E6013 sering jadi pilihan yang ramah pemula. Konstruksi umum: E6011 atau E6013 sering dipakai tergantung kebutuhan penetrasi dan kondisi permukaan. Struktur atau beban lebih berat: E7016 atau E7018 tipe rendah hidrogen sering dipilih, dengan catatan penyimpanan harus kering agar tidak memicu masalah hidrogen. Setelah jenis, sesuaikan diameter dengan ketebalan material: Plat tipis: diameter 2.0 mm sampai 2.6 mm Plat sedang: diameter 3.2 mm Jika diameter terlalu besar untuk material tipis, panas masuk meningkat, risiko tembus naik, spatter makin banyak, dan kontrol kolam las jadi lebih sulit. Di tahap ini, tujuan Anda membangun dasar cara las listrik yang baik dan benar dari pemilihan yang tepat. 2. Setel Arus (ampere) dengan Benar Arus yang keliru adalah penyebab utama hasil las terlihat berantakan. Gunakan angka berikut sebagai titik awal, lalu sesuaikan sedikit demi sedikit sampai busur stabil. Panduan umum untuk elektroda yang sering dipakai: Elektroda 2.6 mm: sekitar 60 A sampai 90 A Elektroda 3.2 mm: sekitar 90 A sampai 130 A Ciri arus terlalu besar: Logam cepat meleleh dan kolam las sulit dikendalikan Spatter meningkat Material tipis bisa bolong Bead melebar berlebihan dan terlihat “tumpah” Ciri arus terlalu kecil: Elektroda sering nempel Penetrasi dangkal Bead menggumpal dan tampak menumpuk Busur sering putus Catatan penting tentang polaritas: Jangan menyamakan polaritas untuk semua elektroda. Lihat rekomendasi pada kemasan elektroda atau lembar data produk, karena ada elektroda yang mendukung AC, ada yang lebih cocok DC, dan ada yang punya performa berbeda di DC positif atau DC negatif. Jika ragu, mulai dari rekomendasi pabrikan, lalu evaluasi dari stabilitas busur dan bentuk bead. Jika Anda ingin cepat naik level dalam cara menggunakan las listrik yang baik dan benar, biasakan mengubah setting kecil saja, misalnya naik turun 5 A sampai 10 A, lalu ulangi satu jalur las yang sama untuk membandingkan hasil. 3. Bersihkan Material Sebelum di Las Permukaan kotor adalah jalan pintas menuju cacat las. Sebelum mengelas, pastikan area sambungan: Bebas karat tebal Bebas minyak, gemuk, atau sisa cat Kering dan tidak lembap Material kotor bisa menyebabkan: Porositas Slag terjebak Sulit menyatu dengan baik sehingga kekuatan sambungan turun Langkah sederhana yang sering menyelamatkan hasil: Gerinda ringan pada area kampuh Lap minyak dengan cairan pembersih yang sesuai Pastikan clamp massa menempel pada permukaan logam bersih agar arus stabil Tahap ini sering jadi pembeda antara “bisa nempel” dan cara mengelas listrik yang benar yang menghasilkan sambungan konsisten. 4. Nyalakan Busur dengan Teknik yang Benar Banyak pemula menusuk elektroda terlalu keras, akibatnya elektroda menempel dan ujung flux rusak. Gunakan teknik gesek ringan seperti menyalakan korek api. Tujuan penyalaan yang benar: Busur cepat stabil Elektroda tidak menempel Awal bead lebih rapi dan tidak menggumpal Jika elektroda tetap sering menempel: Naikkan arus sedikit Pastikan ujung elektroda tidak terlalu panjang terkena slag dari percobaan sebelumnya Pastikan permukaan material bersih dan clamp massa bagus 5. Jaga Jarak Busur (Arc Length) Jarak ujung elektroda ke logam idealnya kurang lebih setara dengan diameter elektroda. Ini salah satu inti teknik las listrik yang baik dan benar. Dampak jarak terlalu jauh: Spatter banyak Bead kasar dan lebar tidak terkontrol Busur terasa “berisik” dan tidak stabil Dampak jarak terlalu dekat: Elektroda nempel Busur sering mati Bead menumpuk dan kurang menyatu Indikator busur sehat: Suara stabil dan konsisten Kolam las mudah dikontrol Bead terbentuk rata Latihan terbaik untuk pemula adalah membuat beberapa jalur las lurus di plat latihan sambil fokus menjaga jarak, tanpa memikirkan pola gerak dulu. 6. Atur Sudut Elektroda dengan Tepat Sudut elektroda memengaruhi penetrasi dan arah aliran slag. Umumnya: Sudut sekitar 10 derajat sampai 15 derajat dari garis vertikal Condong ke
Setting Ampere LB-52U 2.6/3.2/4.0 mm

Kalau Anda sedang mencari Setting Ampere LB-52U 2.6/3.2/4.0 mm yang benar supaya hasil las lebih stabil, rapi, dan minim cacat, Anda ada di tempat yang tepat. Kalau Anda pernah merasa hasil las “kadang bagus, kadang bikin kesel”, seringnya masalahnya bukan di tangan—tapi di setting ampere yang kurang pas. Apalagi kalau yang dipakai adalah KOBELCO LB-52U AWS A5.1: E7016, elektroda low hydrogen yang terkenal kuat untuk pekerjaan struktural, tapi tetap butuh arus yang tepat supaya arc stabil dan bead rapi. Di artikel ini saya rangkum Setting Ampere LB-52U KOBELCO 2.6/3.2/4.0 mm lengkap untuk posisi flat/horizontal, 3G uphill/4G, sampai root pass. Setelah tabel, saya tambahkan tips praktis supaya Anda bisa memilih angka paling “enak” di lapangan tanpa keluar dari batas aman. Kenapa Setting Ampere LB-52U Itu Krusial? LB-52U umumnya dipakai saat Anda butuh sambungan yang kuat dan konsisten. Tapi, karena karakter low hydrogen, hasilnya sangat dipengaruhi oleh: Heat input (terlalu panas → undercut/spatter; terlalu rendah → nempel/sticking) Kontrol kolam las (terutama vertikal naik & overhead) Kualitas root pass (akar sambungan harus tembus rapi, bukan jebol) Jadi, daripada “naik-turun ampere pakai feeling”, lebih aman mulai dari tabel resminya dulu. Sebelum menentukan arus yang paling pas, ada baiknya Anda memahami dulu proses dasarnya. Silakan baca apa itu pengelasan SMAW agar setting ampere, teknik gerakan, dan hasil las Anda lebih konsisten. Setting Ampere LB-52U 2.6/3.2/4.0 mm dan Posisi Pengelasan Keterangan posisi: 1F, 1G, 2F, 2G = datar & horizontal 3G uphill, 4G = vertikal naik & overhead Root pass = jalur akar sambungan Diameter LB-52U 1F, 1G, 2F, 2G 3G Uphill, 4G Root Pass 2.6 mm 60–90 A 50–80 A 30–80 A 3.2 mm 90–130 A 80–120 A 60–110 A 4.0 mm 130–180 A 110–170 A 90–140 A Catatan : DCEN juga suitable.Di data yang sama, polaritas yang tercantum: AC, DCEP (dengan catatan tambahan DCEN bisa digunakan). Cara Memilih Ampere yang “Pas” di Dalam Range 1. Kalau Fokus Anda Root Pass (Akar Sambungan) Root pass itu paling sensitif. Terlalu tinggi sedikit bisa bikin akar jebol, terlalu rendah bikin kurang tembus atau mudah ada cacat. Patokan mudahnya: Mulai dari bawah–tengah range, lalu naikkan sedikit kalau penetrasi kurang. Usahakan kolam las tetap “tenang” dan tidak melebar berlebihan. Contoh start yang sering terasa aman (tetap di range resmi): 2.6 mm: coba 50–60 A dulu (tergantung gap & bevel) 3.2 mm: coba 80–95 A 4.0 mm: coba 110–130 A Ingat: ini bukan angka baku baru, tapi cara memilih titik awal dari range resmi agar lebih cepat ketemu feel-nya. 2. Untuk 3G Uphill dan 4G (Vertikal Naik & Overhead) Di posisi ini, ampere terlalu tinggi biasanya langsung kelihatan: bead jadi “banjir” undercut gampang muncul slag jadi susah dikontrol Karena itu, gunakan range 3G uphill/4G (yang memang lebih rendah dari flat/horizontal) dan prioritaskan kontrol. 3. Untuk 1F/1G/2F/2G (Flat/Hor) Di posisi datar/horizontal, Anda punya ruang lebih untuk main di tengah–atas range—asal bead tetap rapi, tidak melebar berlebihan, dan tidak menggali tepi (undercut). Ciri-Ciri Setting Ampere Anda Terlalu Rendah atau Terlalu Tinggi Ampere Terlalu Rendah Elektroda sering nempel (sticking) Arc terasa “mati-hidup” Bead cenderung cembung, penetrasi kurang Slag terasa numpuk dan sulit bersih Ampere Terlalu Tinggi Spatter makin banyak Bead melebar, tepi sambungan rawan undercut Kolam las terlalu cair, kontrol jadi berat Terasa “panas banget” padahal gerakan sudah benar Info Penting yang Sering Dilupakan: Redrying LB-52U Karena LB-52U termasuk low hydrogen, kondisi elektroda sangat berpengaruh pada konsistensi hasil. Redrying conditions : 300–350°C selama 0.5–1 jam. Ini membantu menjaga performa dan mengurangi risiko masalah yang terkait kelembapan elektroda. Kesimpulan Setting Ampere LB-52U 2.6/3.2/4.0 mm sebaiknya selalu mengacu pada range ampere resmi, karena tiap posisi las membutuhkan kontrol panas yang berbeda. Untuk hasil paling aman dan rapi, gunakan ampere lebih rendah di 3G uphill/4G dan root pass agar kolam las tetap terkendali dan mengurangi risiko undercut/burn-through, lalu manfaatkan range yang lebih tinggi di posisi flat/horizontal jika ingin deposit lebih cepat. Terakhir, jangan abaikan kondisi elektroda (redrying 300–350°C selama 0,5–1 jam) karena sangat berpengaruh pada stabilitas arc dan konsistensi kualitas sambungan. Jika Anda ingin pemesanan KOBELCO LB-52U atau konsultasi kebutuhan pengelasan, silakan hubungi kami untuk pemesanan. FAQs 1. Ampere berapa yang paling aman untuk LB-52U sesuai diameter dan posisi? Gunakan range berikut sesuai kebutuhan: 2.6 mm (60–90A flat/horizontal, 50–80A 3G/4G, 30–80A root), 3.2 mm (90–130A, 80–120A, 60–110A), dan 4.0 mm (130–180A, 110–170A, 90–140A). Kuncinya, posisi 3G/4G dan root pass biasanya lebih rendah dibanding flat/horizontal agar kolam las tetap terkendali. 2. Kenapa setting ampere untuk 3G uphill/4G dan root pass cenderung lebih rendah? Karena di posisi vertikal naik/overhead dan root pass, kolam las lebih mudah “lari” kalau terlalu panas. Ampere yang lebih rendah membantu menjaga kontrol bead, mengurangi risiko undercut, dan mencegah burn-through pada akar sambungan. 3. LB-52U sebaiknya pakai polaritas apa, dan apakah DCEN boleh? LB-52U dapat digunakan pada AC dan DCEP, serta ada catatan bahwa DCEN juga suitable. Pilih polaritas sesuai kebutuhan pekerjaan dan prosedur/WPS di lapangan, namun pastikan arus tetap berada di range yang direkomendasikan untuk diameter dan posisi.
Pengelasan SMAW: Prinsip Kerja dan Pemilihan Elektroda

Apa itu pengelasan SMAW? Pengelasan SMAW adalah proses las yang paling mudah ditemukan di bengkel umum dan proyek lapangan. Peralatannya ringkas, fleksibel untuk banyak posisi, dan mampu bekerja pada beragam material baja karbon. Untuk menentukan elektroda yang sesuai material, ketebalan, dan posisi kerja, gunakan panduan memilih kawat las sebagai acuan awal. Panduan ini berfokus pada kebutuhan nyata di lapangan. Anda akan mempelajari prinsip kerja pengelasan SMAW, cara memilih polaritas, panduan arus per diameter, pemetaan elektroda berdasarkan aplikasi, teknik per posisi, serta checklist K3 dan langkah troubleshooting yang bisa langsung diterapkan. Apa itu Pengelasan SMAW? Pengelasan SMAW atau Shielded Metal Arc Welding sering juga disebut las stik atau MMA. Busur listrik terbentuk antara ujung elektroda berlapis fluks dan benda kerja. Lapisan fluks meleleh lalu menghasilkan gas pelindung dan terak yang menutup kolam logam cair agar tidak terkontaminasi udara. Setelah membeku, terak dibersihkan untuk menampakkan manik las. Sumber daya yang digunakan dapat berupa arus searah ataupun arus bolak balik. Perlengkapan inti mencakup mesin las, kabel massa, stang elektroda, serta perlindungan diri yang lengkap. Komponen utama pada pengelasan SMAW Power source dengan pengaturan arus dan jika tersedia fitur bantu seperti hot start dan arc force. Holder dan kabel kerja yang terawat baik agar jatuh tegangan tidak berlebihan. Elektroda las berlapis fluks yang sesuai dengan material dan tugas pengelasan. Alat pelindung diri berupa helm las, sarung tangan, pakaian tahan panas, kacamata keselamatan, dan sepatu kerja. Prinsip perlindungan fluks Fluks melepaskan gas pelindung yang mengusir oksigen dan nitrogen dari kolam las. Fluks juga membentuk terak yang menstabilkan kolam, memperlambat pendinginan, dan membantu menghasilkan manik dengan permukaan rapi. DCEP, DCEN, dan AC pada pengelasan SMAW Pemilihan polaritas mempengaruhi penetrasi, kestabilan busur, serta kontrol kolam. DCEP Arus searah dengan elektroda positif cenderung memberi penetrasi lebih dalam dan busur yang tajam. Banyak digunakan dengan elektroda hidrogen rendah seperti E7016 dan E7018 pada sambungan yang menuntut kekuatan dan ketangguhan. DCEN Arus searah dengan elektroda negatif membuat panas lebih merata pada permukaan sehingga membantu ketika mengendalikan kolam pada pelat tipis atau saat mengejar manik yang halus. Cocok untuk beberapa elektroda jenis rutile yang mendukung DCEN. AC Arus bolak balik memberi kompromi yang baik untuk aplikasi umum dan berguna bila suplai listrik lapangan menyediakan trafo AC. Banyak kelas E6013 berjalan stabil pada AC. Panduan cepat Root atau kebutuhan penetrasi tinggi cenderung memakai DCEP. Pelat tipis dan kontrol kolam yang jinak cenderung memakai DCEN atau E6013 pada AC. Ikuti selalu rekomendasi pabrikan pada kemasan dan WPS proyek. Variabel proses yang paling berpengaruh Empat variabel berikut menentukan kualitas manik dan konsistensi sambungan pada pengelasan SMAW. Arus dan diameter elektroda Arus harus sepadan dengan diameter elektroda. Arus terlalu rendah membuat elektroda mudah lengket dan manik tinggi. Arus terlalu tinggi menimbulkan percikan, undercut, serta zona terpengaruh panas yang melebar. Tegangan busur dan panjang arc Panjang arc berkorelasi dengan tegangan efektif. Arc yang terlalu panjang membuat busur liar, percikan meningkat, dan porositas. Jaga panjang arc kira kira setara diameter inti elektroda. Kecepatan gerak dan masukan panas Masukan panas dapat ditaksir dengan pendekatan sederhana yaitu tegangan dikali arus dikali waktu per panjang. Kecepatan terlalu lambat meningkatkan masukan panas dan risiko distorsi. Kecepatan terlalu cepat berpotensi menimbulkan kurang fusi. Sudut dan teknik manipulasi Gunakan sudut dorong atau tarik sekitar lima sampai lima belas derajat. Pilih stringer bead untuk kontrol penetrasi dan minimisasi terak terjebak. Gunakan weave seperlunya pada posisi menanjak atau ketika lebar sambungan menuntut pengisian merata. Tabel cepat diameter dan arus rekomendasi Angka di bawah adalah rentang umum untuk elektroda rutile dan hidrogen rendah pada baja karbon. Selalu cek label pabrikan serta lakukan uji pendek di benda uji sebelum produksi. Diameter (mm) Arus (A) Ketebalan bahan (mm) 2.0 40 sampai 70 1 sampai 2 2.6 60 sampai 100 2 sampai 4 3.2 90 sampai 130 3 sampai 8 4.0 130 sampai 180 6 sampai 12 5.0 170 sampai 240 lebih dari 10 Catatan praktik Jika mesin memiliki hot start dan arc force, naikkan sedikit hot start agar penyalaan lebih mudah. Atur arc force secukupnya agar tidak menimbulkan percikan berlebih. Lakukan restrike pada run off tab atau area yang akan terpotong agar tidak meninggalkan cacat pada komponen. Memilih elektroda yang tepat untuk pengelasan SMAW Gunakan pemetaan berikut sebagai titik awal kemudian sesuaikan dengan WPS proyek. Baja karbon rendah dan fabrikasi umum Kelas E6013 seperti RB 26 cocok untuk pelat tipis sampai sedang, tack, serta pekerjaan serbaguna. Slag mudah lepas dan penampilan manik bersih. Dapat berjalan pada AC maupun DC. Rujukan produk RB 26 dapat dilihat di halaman produk kawat las kobe rb 26. Struktur dan sambungan yang menuntut ketangguhan Kelas hidrogen rendah seperti E7016 dan E7018 memberi ketangguhan sambungan lebih baik asalkan penanganan kering terjaga. Rujukan produk: LB 52 E7016 untuk aplikasi struktural. LB 52 18 E7018 untuk laju endapan tinggi pada posisi datar dan horizontal. LB 52U yang disukai pada pipa untuk root dan pengelasan dari satu sisi dengan kontrol kolam baik. Aplikasi pipa dengan kontrol root yang presisi Kelas selulosa tinggi umum dipakai untuk root pass pada posisi vertikal naik. Rujukan produk KOBE 6010 untuk baja karbon dan KOBE 7010S untuk kebutuhan kekuatan tarik yang lebih tinggi. Material khusus Untuk stainless dan besi cor gunakan filler yang kompatibel dengan komposisi logam dasar serta ikuti standar proyek. Lingkungan kerja harus bersih dan parameter disetel dengan disiplin. Ringkasan pemetaan cepat Aplikasi umum pelat tipis cenderung memakai E6013. Struktur dan beban dinamis cenderung memakai E7016 atau E7018 dengan disiplin pengeringan. Root pipa vertikal naik cenderung memakai E6010 atau E7010 dengan teknik keyhole. Material khusus memakai filler sesuai standar dan prosedur proyek. Baca Juga : Cara Memilih Ukuran Kawat Las RB-26 Panduan posisi pengelasan Posisi fillet satu F sampai empat F dan posisi pelat satu G sampai enam G memerlukan penyesuaian teknik agar pengelasan SMAW konsisten. Posisi datar Pegang sudut sekitar lima sampai sepuluh derajat arah tarik. Gunakan stringer bead untuk meminimalkan terak terjebak. Atur arus sesuai diameter agar kolam tidak terlalu cair. Posisi horizontal Jaga kolam agar tidak mengalir turun dengan sedikit sudut ke atas. Gunakan gerak kecil berbentuk jangkar untuk menutup akar dan mengikat kedua sisi. Posisi
Apa Perbedaan Antara RB 26 dan LB 52?

Pertanyaan “Perbedaan Antara RB 26 dan LB 52” muncul ketika welder, QC, dan purchaser perlu memilih elektroda yang aman, efisien, dan sesuai WPS. Keduanya sama-sama KOBELCO untuk baja karbon; RB-26 unggul untuk lembaran/pelat tipis dengan kemudahan semua posisi, sedangkan keluarga LB-52 berfokus pada sambungan struktural dan pipa dengan kontrol hidrogen ketat. Untuk ringkasan seri, tabel diameter, dan rekomendasi aplikasi, lihat kawat las kobe. Perbedaan Antara RB 26 dan LB 52 Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara RB 26 dan LB 52 yang kamu harus ketahui, yaitu: 1. Klasifikasi AWS RB-26: diklasifikasikan sebagai AWS A5.1 E6013 tipe rutile. Artinya level kekuatan tarik pada kelas 60 ksi dengan karakter busur ramah pengguna dan slag mudah terkelupas. LB-52: anggota keluarga low hydrogen basic yang tercantum sebagai AWS A5.1 E7016 pada daftar resmi KOBELCO. Varian terkait dalam keluarga ini antara lain LB-52U yang juga E7016 untuk root pipa, serta LB-52-18 yang E7018 untuk struktur berat. 2. Kegunaan Utama RB-26: difavoritkan untuk butt dan fillet pada pelat tipis, dengan usability sangat baik di semua posisi termasuk vertical down. Cocok untuk fabrikasi umum, bodi ringan, hingga pekerjaan perawatan harian. LB-52 family: dirancang untuk struktur, jembatan, pressure vessel, dan pipa di kelas baja 490 MPa, menekankan ketangguhan dan ketahanan retak berkat kontrol hidrogen. LB-52U unggul untuk one side welding pada pipa, sementara LB-52-18 dioptimalkan untuk struktur berat dengan performa arus AC atau DCEP yang baik. 3. Kekuatan Tarik (level klasifikasi) RB-26 / E6013: kelas 60 ksi yang memadai untuk konstruksi ringan dan menengah pada baja karbon. LB-52 / E7016 dan LB-52-18 / E7018: kelas 70 ksi, sesuai untuk baja 490 MPa dan aplikasi struktural yang menuntut margin ketangguhan lebih tinggi. 4. Arus dan Polaritas RB-26: AC, DCEP, DCEN, memberi fleksibilitas setelan mesin dan kemudahan adaptasi di lapangan. LB-52U: AC atau DCEP dengan stabilitas busur sangat baik pada arus relatif rendah untuk root pipa. LB-52-18: AC atau DCEP untuk struktur. 5. Redrying atau Pengeringan Ulang RB-26: disiplin redrying 70–100°C selama 0,5–1 jam, karena bukan elektroda low hydrogen sehingga kontrol hidrogen tidak seketat tipe basic. Cocok untuk gudang umum dengan kelembapan terkelola. LB-52 family: wajib disiplin 300–350°C selama 0,5–1 jam untuk menjaga difusible hydrogen rendah dan mencegah retak hidrogen, terutama pada pipa dan struktur tebal. 6. Catatan Posisi Las RB-26: secara eksplisit mendukung vertical down, keunggulan khas E6013 rutile untuk pekerjaan cepat pada pelat tipis dan sambungan posisi menurun. LB-52 family: fokus pada all position tanpa vertical down untuk kontrol kolam yang stabil di pekerjaan kritikal. Kawat las KOBE LB-52U menonjol pada one side welding pipa, sedangkan LB-52-18 menyasar butt dan fillet struktur berat. Baca Juga : Cara Memilih Ukuran Kawat Las RB-26 Ringkasnya Apa perbedaan Antara RB 26 dan LB 52? Kawat las KOBE RB-26 E6013 untuk pelat tipis, busur ramah, vertical down, slag mudah lepas, redrying rendah, produktif dan rapi. LB 52 E7016 untuk struktur dan pipa, kekuatan 70 ksi, low hydrogen, ketangguhan tinggi, perlu redrying 300 sampai 350 derajat, pilih sesuai WPS dan tebal. Kesimpulan Ringkasnya, Perbedaan Antara RB 26 dan LB 52 terletak pada tipe fluks, kelas kekuatan, disiplin hidrogen, posisi, serta kebutuhan redrying. RB-26 adalah E6013 rutile yang sangat ramah operator, fleksibel di berbagai polaritas, dan unggul pada pelat tipis termasuk vertical down. Keluarga LB-52 adalah low hydrogen basic di kelas 70 ksi untuk struktur dan pipa, menuntut redrying 300–350°C serta kontrol penyimpanan yang ketat agar ketangguhan dan ketahanan retak terjaga. Jika pekerjaan Anda berfokus pada produktivitas rapi di pelat tipis, mulai dari RB-26. Jika Anda menangani pipa atau struktur 490 MPa dan membutuhkan integritas sambungan tinggi, pilih varian LB-52 yang sesuai seperti LB-52U untuk root pipa atau LB-52-18 untuk struktur berat. Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan produk kawat las, bisa langsung menghubungi kami melalui layanan kontak yang telah kami sediakan. FAQs 1) Mana yang harus dipilih: RB-26 atau LB-52? Pilih RB-26 (E6013) bila menargetkan pelat tipis, ritme kerja cepat, vertical down mulus, dan hasil rapi; pilih LB-52 family (E7016/E7018) bila butuh integritas struktural 70 ksi, kontrol hidrogen ketat, serta ketangguhan untuk struktur, pipa, dan vessel sesuai WPS. 2) Apakah RB-26 mendukung vertical down dan bagaimana dengan LB-52? RB-26 unggul untuk vertical down pada pekerjaan cepat dan pelat tipis berkat slag yang mudah terkelupas; LB-52 family fokus all position tanpa vertical down demi stabilitas kolam pada sambungan kritikal, dengan LB-52U spesialis root pipa dan LB-52-18 untuk struktur berat. 3) Bagaimana aturan redrying RB-26 vs LB-52 dan mengapa penting? RB-26 cukup 70–100°C selama 0,5–1 jam karena bukan low hydrogen; LB-52 family wajib 300–350°C selama 0,5–1 jam untuk menekan difusible hydrogen, mencegah retak hidrogen, menjaga ketangguhan, dan memastikan kepatuhan WPS pada pipa/struktur tebal.
Apa Itu AWS dalam Pengelasan yang Penting Untuk Kualitas Las

Dalam dunia pengelasan profesional, istilah AWS sering muncul di kode kawat las seperti E7016 atau E309L-16. Namun, banyak welder dan teknisi baru yang belum benar-benar memahami apa arti AWS dan perannya dalam menjamin kualitas hasil las. Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap tentang apa itu AWS dalam pengelasan, fungsinya, serta bagaimana standar ini digunakan dalam industri dan produk-produk KOBELCO yang produksi oleh PT Intan Pertiwi Industri. Apa Itu AWS dalam Pengelasan? AWS adalah singkatan dari American Welding Society, yaitu lembaga internasional asal Amerika Serikat yang menetapkan standar dan klasifikasi untuk berbagai proses dan material pengelasan. Didirikan sejak tahun 1919, AWS berfungsi untuk memastikan bahwa produk kawat las, prosedur pengelasan, serta hasil sambungan las memiliki konsistensi mutu yang bisa diukur dan diakui secara global. Dalam konteks elektroda atau kawat las, standar AWS digunakan untuk menandai jenis logam, kekuatan tarik, posisi las, dan sifat flux. Contohnya: E7016 E → Elektroda untuk SMAW 70 → Kekuatan tarik 70.000 psi 1 → Dapat digunakan di semua posisi 6 → Jenis flux low hydrogen Dengan standar ini, setiap welder di seluruh dunia dapat memahami karakteristik kawat las hanya dari kode AWS tanpa harus mencoba satu per satu. Untuk memahami lebih dalam cara membaca kode seperti E7016, kamu bisa lihat penjelasan lengkap di artikel Arti Kode Elektroda E7016. Fungsi dan Kelebihan Standar AWS Mengapa AWS penting dalam pengelasan? Berikut fungsi utamanya yang menjadi dasar kualitas di setiap proyek industri: Menjamin Konsistensi Mutu Setiap elektroda yang mematuhi AWS memiliki spesifikasi mekanis dan kimia yang sama, meski diproduksi oleh pabrikan berbeda. Contoh: KOBELCO LB-52 (E7016) dan merek lain dengan kode sama akan memiliki parameter kerja yang serupa. Memudahkan Pemilihan Material Insinyur dapat menentukan kawat las yang sesuai dengan material dasar, posisi, dan kekuatan yang dibutuhkan hanya dengan melihat kode AWS. Mendukung Audit dan Sertifikasi Dalam proyek EPC, migas, atau konstruksi berat, AWS menjadi acuan wajib dalam Welding Procedure Specification (WPS) dan Procedure Qualification Record (PQR). Meningkatkan Keamanan dan Reputasi Dengan mengikuti standar AWS, risiko kegagalan sambungan dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kepercayaan klien terhadap hasil kerja. Berdasarkan pengalaman tim INTIWI, produk berstandar AWS seperti KOBELCO LB-52U (E7016) dan RB-26 (E6013) memberikan hasil manik las yang stabil, bersih, dan minim porositas saat diuji di workshop internal. Struktur dan Contoh Klasifikasi AWS Berikut tabel contoh interpretasi kode AWS A5.1 untuk elektroda baja karbon: Kode Elektroda Arti Simbol Penjelasan E Elektroda Untuk proses SMAW (Shielded Metal Arc Welding) 70 Kekuatan tarik 70.000 psi Menunjukkan kekuatan logam las 1 Semua posisi Dapat digunakan di posisi flat, horizontal, vertical, overhead 6 Jenis flux basic (low hydrogen) Cocok untuk arus AC/DC dengan hasil manik halus Selain A5.1 (baja karbon), AWS juga memiliki seri standar lain: A5.4 → Elektroda stainless steel (contoh: E309L-16, E316-16) A5.5 → Elektroda baja paduan rendah (low alloy) A5.18 → Solid wire untuk MIG (G3Si1, ER70S-6) A5.20 → Flux-cored wire (E71T-1C, E71T-12) Dengan memahami seri ini, seorang welder bisa langsung mengetahui kategori material yang sedang ia gunakan. Panduan Penggunaan Standar AWS di Lapangan Agar penerapan standar AWS benar-benar efektif, berikut beberapa tips praktis dari pengalaman tim teknis INTIWI: Baca Kode Lengkap di Kemasan Setiap kemasan elektroda atau kawat las mencantumkan kode AWS dan nomor lot produksi. Pastikan sesuai dengan WPS proyek. Simpan Elektroda Sesuai Panduan Produk dengan kode low hydrogen seperti E7016 atau E7018 wajib disimpan di holding oven 100–150°C agar tidak menyerap kelembapan. Gunakan Arus dan Polaritas Tepat Cek datasheet AWS atau rekomendasi pabrikan (misal: KOBELCO) untuk menentukan arus (AC/DC+ atau DC−) dan rentang ampere optimal. Lakukan Pengujian Ulang (Requalification) Jika material atau proses berubah, lakukan tes ulang sesuai panduan AWS D1.1 (untuk baja karbon) atau AWS D1.6 (untuk stainless). Jika Anda bekerja dengan material mild steel, baca juga panduan kawat las baja karbon agar pemilihan consumable tetap sesuai standar AWS dan kebutuhan aplikasi di lapangan. Untuk aplikasi anti-karat dan material khusus, pelajari juga kawat las stainless steel agar Anda dapat memilih filler yang sesuai standar AWS dan grade stainless yang digunakan. Perbandingan AWS dengan Standar Lain Standar Asal Fokus Penggunaan Catatan Penting AWS (American Welding Society) AS Spesifikasi elektroda dan prosedur las global Paling umum di industri migas dan konstruksi JIS (Japanese Industrial Standard) Jepang Detail material dan metode pengujian Banyak dipakai pada produk KOBELCO ISO (International Organization for Standardization) Internasional Integrasi berbagai standar Umumnya digunakan untuk proyek lintas negara Sebagian besar produk KOBELCO memiliki dua label standar (AWS + JIS) untuk memastikan kompatibilitas di berbagai pasar industri. Setelah memahami standar AWS, lanjutkan dengan panduan tipe kawat las berdasarkan kodenya agar Anda bisa membaca klasifikasi elektroda/kawat las dengan tepat saat memilih consumable. Rekomendasi & Kesimpulan Standar AWS bukan sekadar kode teknis, melainkan bahasa universal yang menyatukan welder, engineer, dan produsen di seluruh dunia. Dengan memahami arti setiap kode AWS, Anda dapat memilih kawat las yang tepat, menghindari kesalahan pemakaian, dan menjaga kualitas hasil pengelasan. Bagi tim PT Intan Pertiwi Industri, penerapan standar AWS adalah komitmen terhadap kualitas, keamanan, dan keandalan setiap produk KOBELCO yang kami distribusikan. FAQ – Tentang AWS dalam Pengelasan Apa fungsi utama AWS dalam pengelasan?Untuk memastikan mutu, kekuatan, dan keamanan hasil pengelasan sesuai standar internasional yang bisa diakui di seluruh dunia. Apakah semua kawat las wajib berstandar AWS?Tidak wajib, tetapi sangat disarankan. Produk berstandar AWS lebih mudah disertifikasi dan dipercaya di proyek industri. Bagaimana cara membaca kode AWS seperti E7016?Huruf dan angka menunjukkan fungsi elektroda, kekuatan tarik, posisi las, dan jenis flux. Contohnya, E7016 = elektroda 70.000 psi, semua posisi, low hydrogen.
Ukuran Kawat Las untuk Besi Tipis dan Rekomendasi Kawat Las

Sebelum menentukan ukuran kawat las untuk besi tipis, pahami dulu dasar pemilihan kawat las berdasarkan proses pengelasan dan kebutuhan aplikasinya. Setelah itu, barulah kita bahas ukuran yang aman agar material tidak mudah bolong dan hasil las tetap rapi. Di panduan ini kamu akan menemukan rekomendasi diameter yang aman, kisaran arus awal yang realistis, serta pilihan proses MIG TIG SMAW yang paling masuk akal untuk ketebalan 0,8 sampai 3,0 mm. Tujuannya jelas yaitu sambungan kuat rapi dan minim distorsi. Mengelas besi tipis butuh kendali panas yang halus agar tidak tembus, tidak melengkung, dan tetap rapi. Kunci utamanya adalah memilih ukuran kawat atau elektroda yang kecil, arus yang rendah, serta teknik gerak yang menjaga kolam tetap mungil. Panduan ini merangkum ukuran yang disarankan untuk plat 0,8 sampai 3,0 mm berikut produk yang relevan di lini baja karbon dan stainless. Apa itu Kawat Las? Kawat las adalah bahan pengisi yang meleleh untuk membentuk sambungan. Pada proses SMAW disebut elektroda, sedangkan pada MIG MAG dan TIG disebut wire atau filler. Ukurannya menentukan besarnya kolam, laju isi, dan kebutuhan arus. Untuk plat tipis, ukuran kecil membantu menekan heat input sehingga risiko tembus berkurang. Sebelum memilih diameter untuk pelat tipis, pahami dulu fungsi elektroda las karena jenis pelapis dan karakter busur memengaruhi panas masuk, kendali kolam, serta efisiensi pemakaian kawat. Ukuran Kawat Las untuk Besi Tipis Mild steel karbon biasa Gunakan elektroda rutile atau basic berdiameter kecil agar panas terkendali. Mulai dari arus rendah lalu naik perlahan sampai fusi tampak baik. Ketebalan plat Diameter yang disarankan Arus kisaran 0,8 sampai 1,0 mm 2,0 mm 35 sampai 55 A 1,0 sampai 1,6 mm 2,0 mm 45 sampai 65 A 1,6 sampai 2,3 mm 2,0 mm atau 2,6 mm 55 sampai 75 A untuk 2,0 mm, 65 sampai 80 A untuk 2,6 mm 2,0 sampai 3,0 mm 2,6 mm 70 sampai 90 A Rincian per ketebalan 0,8 sampai 1,0 mm Untuk ketebalan setipis ini, MS 77 dan RB 26 adalah pilihan yang aman. Karakter rutile 6013 cenderung lebih jinak di plat tipis. Jaga setelan dan teknik agar ringan. Pasang tack rapat. Gerak pendek. Sudut kecil. Celah sekecil mungkin. Tujuannya kolam tetap mungil dan tidak tembus. Lihat Produk : Kawat Las MS 77 1,0 sampai 1,6 mm Masih nyaman dengan MS 77 atau RB 26. Utamakan stringer bead agar panas tidak menumpuk. Simpan arc sependek mungkin. Bila perlu, gunakan vertical down untuk membantu menahan input panas. Hasilnya lebih rapi dan risiko distorsi menurun. Lihat Produk : Kawat Las RB 26 1,6 sampai 2,3 mm Di rentang ini, Anda bisa memilih MS 77, RB 26, atau LB 26. Tentukan diameter sesuai kondisi kerja. Ambil 2,0 mm bila material mudah tembus. Beralih ke 2,6 mm bila butuh isi sedikit lebih cepat. Kuncinya tetap sama yaitu kontrol panas dan tempo gerak yang stabil. 2,0 sampai 3,0 mm Untuk produktivitas yang seimbang, kombinasi RB 26, LB 26, atau LB 52 berjalan baik. 2,6 mm biasanya paling aman. Panas tidak berlebih tetapi laju isi tetap terjaga. 3,2 mm hanya dipakai bila mesin benar benar stabil di arus rendah dan tangan sudah sangat terkontrol. Targetkan bead lurus dan pendek agar bentuk sambungan konsisten. Lihat Produk : Kawat Las LB 52 Stainless Steel Tipis Jika harus SMAW pada plat stainless tipis, gunakan seri NC dengan diameter terkecil untuk menekan panas. Untuk nilai estetika tinggi dan kontrol distorsi, proses TIG tetap menjadi pilihan utama. Ketebalan plat Diameter yang disarankan Arus kisaran 0,8 sampai 1,5 mm 2,0 mm 30 sampai 50 A 1,5 sampai 3,0 mm 2,0 mm atau 2,6 mm 40 sampai 60 A untuk 2,0 mm, 55 sampai 75 A untuk 2,6 mm 0,8 sampai 1,5 mm Gunakan seri NC 36L 308L, NC 38L 316L, atau NC 39L 309L sesuai jenis base metal. Jaga panas serendah mungkin. Buat jalur pendek. Beri jeda agar material sempat dingin. Jika mengejar tampilan yang sangat rapi, TIG biasanya lebih ideal berkat kontrol kolam yang halus. Lihat Produk : Kawat Las NC 36L 1,5 sampai 3,0 mm Pilih NC 36L, NC 38L, atau NC 39L. Utamakan diameter 2,0 mm ketika risiko tembus masih tinggi. Beralih ke 2,6 mm jika butuh laju isi lebih cepat dan material sudah cukup kaku. Tetap jaga tempo gerak, panjang arc, dan urutan las agar panas tersebar merata. Lihat Produk : Kawat Las NC 38L Catatan pemilihan paduan Untuk base metal tipe 304 pilih 308L. Untuk 316 pilih 316L. Untuk sambungan beda logam atau transisi ke baja karbon pilih 309L. Lihat Produk : Kawat Las NC 39L Jenis Kawat Las untuk Plat Tipis 1. Kawat Las RB-26 Kobe RB-26 adalah elektroda rutil yang terkenal mudah dinyalakan ulang, kolam las jinak, dan manik rapi—pas untuk pelat tipis yang butuh kontrol panas ketat. Cocok untuk pekerjaan bengkel harian hingga fabrikasi ringan yang mengejar hasil bersih dengan risiko tembus rendah. Pakai diameter kecil untuk start aman, lalu naikkan arus perlahan sesuai respon material. 2. Kawat Las MS-77 Kobe MS-77 dirancang untuk finishing yang lebih halus pada pelat tipis. Karakter busurnya stabil, slag mudah terkelupas, dan tampilan manik cenderung bersih sehingga pekerjaan rapi tanpa banyak rework. Ideal untuk panel, bracket tipis, dan sambungan yang menuntut estetika. Untuk sambungan kuat dan rapi pada profil galvanis, baca juga kawat las untuk besi hollow galvanis. Kesimpulan Kesimpulannya, Ukuran kawat las untuk besi tipis sebaiknya kecil agar panas terkontrol dan tidak tembus. Untuk plat 0,8 sampai 3,0 mm gunakan MIG wire 0,8 mm, TIG filler 1,0 sampai 1,6 mm, atau SMAW elektroda 2,0 mm dan 2,6 mm sesuai kebutuhan. Mulai dari arus rendah lalu naik perlahan, jaga arc pendek, pakai stringer bead, dan lakukan uji pada kupingan bahan. Untuk stainless pilih seri paduan yang tepat seperti 308L, 316L, atau 309L dengan diameter terkecil. Dengan setelan ini hasil las rapi, kuat, dan risiko distorsi menurun. FAQs 1) Berapa ukuran kawat/elektroda yang aman untuk pelat 0,8–3,0 mm?Untuk mild steel tipis, gunakan MIG wire 0,8 mm, TIG filler 1,0–1,6 mm, dan SMAW elektroda 2,0–2,6 mm. Mulai dari ukuran terkecil untuk menjaga kolam mungil dan panas rendah, lalu naikkan diameter bila material cukup kaku atau butuh laju isi
Fungsi Elektroda Las: Inti, Salutan, dan Pengaruh pada Hasil Las

Pelajari Fungsi Elektroda Las beserta peran inti dan salutan, pengaruh pada posisi las, rentang arus yang disarankan, dan cara mencegah cacat umum. Elektroda adalah pusat kendali dalam proses pengelasan busur listrik manual. Kualitas sambungan sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di ujung elektroda saat busur menyala. Artikel ini membahas fungsi inti elektroda serta fungsi salutan, dampaknya pada posisi las, cara memilih elektroda sesuai proyek, hingga panduan arus praktik dan troubleshooting. Tujuannya agar welder, supervisor, dan engineer memahami sebab akibat di balik permukaan manik las yang rapi, kuat, dan bebas cacat. Apa Itu Elektroda Las untuk SMAW? Pada proses SMAW, elektroda terdiri dari inti kawat logam dan salutan yang menyelimuti bagian luar. Inti memasok logam pengisi. Salutan bertugas menjaga kestabilan busur, melindungi kolam las dari gangguan atmosfer, dan membantu reaksi metalurgi yang sehat. Kombinasi komposisi inti dan salutan menentukan karakter busur, kemudahan operasi, penembusan, kecepatan, serta penampilan terak dan manik. Peran Inti dan Salutan Inti menyuplai logam ke sambungan, memengaruhi kekuatan, ketangguhan, dan kecocokan komposisi dengan logam dasar. Salutan menghasilkan gas pelindung, membentuk terak, menstabilkan busur, mengikat oksida, menambahkan unsur paduan, dan mengelola kadar hidrogen yang berdifusi. Fungsi Elektroda Las Fungsi elektroda las menentukan kualitas sambungan sejak busur pertama menyala. Di dalamnya ada peran inti yang memasok logam pengisi dan ada peran salutan yang menstabilkan busur, melindungi kolam, serta membantu reaksi metalurgi. Bagian ini menjelaskan peran elektroda dalam membentuk kualitas sambungan sejak busur pertama menyala. Di dalam satu batang, inti memasok logam pengisi sementara salutan mengatur stabilitas busur, melindungi kolam, dan membantu reaksi metalurgi agar manik rapi serta kuat. Untuk memudahkan pemahaman, pembahasan dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu fungsi inti elektroda dan fungsi salutan elektroda yang bersama sama menentukan penembusan, kontrol kolam, produktivitas, dan ketahanan terhadap cacat. 4 Fungsi Inti Elektroda Transfer logam pengisi yang konsisten sehingga celah terisi terkendali. Menentukan komposisi hasil las agar sifat mekanik sesuai kebutuhan pekerjaan. Menjadi konduktor arus yang andal sehingga busur menyala stabil. Mengatur laju peleburan yang berpengaruh pada kecepatan kerja dan kontrol kolam. 7 Fungsi Salutan Elektroda Membentuk gas pelindung yang mengusir oksigen dan nitrogen dari kolam las. Membentuk terak yang menutup kolam, memperlambat pendinginan, dan memudahkan pembersihan. Menstabilkan busur sehingga penyalaan dan keberlanjutan busur halus serta mudah diawasi. Mengikat oksida dan pengotor melalui reaksi deoksidasi sehingga manik lebih bersih. Menambah unsur paduan untuk menyesuaikan sifat mekanik serta ketahanan aus atau korosi. Mengatur ionisasi agar aliran arus dan stabilitas busur terjaga. Mengendalikan kelembapan untuk menekan kandungan hidrogen yang dapat memicu retak. Jenis Salutan Elektroda dan Dampaknya pada Hasil Las Rutile untuk kemudahan operasi sehari hari Contoh yang populer adalah kawat las RB 26. Rutile dikenal mudah dinyalakan kembali, memiliki tampilan manik halus, slag relatif mudah terkelupas, dan cocok untuk banyak aplikasi fabrikasi umum. Cocok untuk pengelasan posisi datar dan horizontal serta dapat dipakai pada vertikal dengan teknik yang tepat. Low hydrogen untuk ketahanan retak pada material menantang Seri LB seperti kawat las LB 52, kawat las LB 52 18, dan kawat las LB 52U dirancang untuk menekan hidrogen yang berdifusi. Keunggulannya terasa pada material tebal dan kekuatan tinggi yang rentan retak daerah pengaruh panas. Pengeringan dan penyimpanan yang benar sangat penting agar manfaat rendah hidrogen tetap terjaga. Selulosa untuk penetrasi tinggi dan kecepatan Elektroda selulosa seperti 6010 terkenal dengan penetrasi tajam dan cocok untuk pipa terutama gerak vertikal turun. Karakter busurnya lincah dan cepat, namun memerlukan keterampilan pengendalian kolam yang baik. Pengaruh Fungsi Elektroda terhadap Posisi Las Datar dan horizontal Rutile memberi permukaan manik rapi dan slag mudah lepas. Low hydrogen memberikan sifat mekanik yang unggul pada struktur kritis. Vertikal naik dan vertikal turun Vertikal naik memerlukan kontrol kolam yang baik serta salutan yang membantu penyanggaan kolam. Low hydrogen sering dipilih untuk sambungan kritis. Vertikal turun mengutamakan kecepatan, selulosa unggul di sini. Di atas kepala Dibutuhkan kolam yang terkendali dan slag yang tidak mengganggu pandangan. Low hydrogen dan rutile bisa bekerja dengan baik jika arus dan teknik diatur tepat. Cara Memilih Elektroda Sesuai Material dan Tujuan Proyek Baja karbon dan kekuatan menengahRutile seperti RB 26 ideal untuk fabrikasi umum dan pekerjaan harian yang menuntut kecepatan dan kerapian. Material tebal atau kekuatan tinggiPilih low hydrogen seperti LB 52, LB 52 18, atau LB 52U untuk mereduksi risiko retak akibat hidrogen. Sertakan prosedur pemanasan awal saat dibutuhkan. Pipa dan aplikasi lapangan yang menuntut kecepatanSelulosa seperti 6010 menyajikan penetrasi tinggi dan progres cepat, khususnya pada vertikal turun. Pertimbangan produktivitas vs kualitas tertinggiJika target utama adalah produktivitas, fokus pada gerak yang cepat dan selulosa. Jika target utama adalah sifat mekanik dan ketahanan retak, utamakan low hydrogen. Rekomendasi Arus Praktik per Tipe dan Diameter Gunakan nilai awal yang masuk akal, lalu sesuaikan dari tampilan kolam, suara busur, dan ketebalan benda kerja. Nilai berikut adalah rentang umum untuk mesin dan kabel yang sehat. Satuan arus dalam ampere. Kawat Las RB 26 Diameter 2,6 milimeter Datar dan horizontal: 60 sampai 85 Vertikal naik: 60 sampai 85 Di atas kepala: 65 sampai 85 Diameter 3,2 milimeter Datar dan horizontal: 80 sampai 110 Vertikal naik: 80 sampai 110 Di atas kepala: 85 sampai 110 Diameter 4 milimeter Datar dan horizontal: 105 sampai 140 Vertikal naik: 100 sampai 130 Di atas kepala: 95 sampai 130 Kawat Las LB 52 18 Diameter 2,6 milimeter Datar dan horizontal: 70 sampai 90 Vertikal naik: 65 sampai 85 Di atas kepala: 70 sampai 90 Diameter 3,2 milimeter Datar dan horizontal: 90 sampai 115 Vertikal naik: 80 sampai 110 Di atas kepala: 90 sampai 115 Diameter 4 milimeter Datar dan horizontal: 120 sampai 150 Vertikal naik: 105 sampai 140 Di atas kepala: 100 sampai 135 Kawat Las Kelas 6010 Diameter 3,2 milimeter Datar dan horizontal: 80 sampai 105 Vertikal turun: 80 sampai 105 Vertikal naik: 85 sampai 105 Di atas kepala: 85 sampai 105 Catatan penting Mulai dari tengah rentang lalu naik atau turun sedikit demi sedikit. Jaga jarak busur pendek untuk rutile dan low hydrogen. Untuk selulosa pada vertikal turun, pertahankan gerak halus dan konsisten. Pastikan kabel massa bersih, penjepit kencang, dan sambungan listrik tidak longgar. Butuh referensi produk resminya? Lihat koleksi kawat las kobe steel sebelum
Cara Memilih Ukuran Kawat Las RB-26 yang Benar

Cara memilih ukuran kawat las RB-26 sering menjadi pertanyaan penting bagi welder maupun engineer ketika menghadapi pekerjaan pengelasan. Tidak sedikit hasil las gagal karena penggunaan elektroda yang tidak sesuai dengan ketebalan material atau posisi kerja. Padahal, RB-26 adalah salah satu elektroda KOBELCO yang paling populer di Indonesia karena kemudahan pemakaian dan kualitas hasilnya. Memahami panduan pemilihan ukuran RB-26 yang tepat bukan hanya membantu menghasilkan sambungan las yang rapi dan kuat, tetapi juga meningkatkan efisiensi waktu, biaya, serta keselamatan kerja di lapangan. Mengenal Kawat Las RB-26 KOBELCO Dalam dunia pengelasan, RB-26 merupakan salah satu jenis kawat las yang paling populer dan banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Produk ini diproduksi oleh KOBELCO, brand global asal Jepang yang dikenal memiliki kualitas tinggi dan konsistensi hasil las. RB-26 adalah elektroda tipe rutile dengan karakteristik penyalaan mudah, slag yang gampang terkelupas, serta menghasilkan penampilan las yang halus. Karena itulah, kawat las ini menjadi pilihan utama untuk berbagai pekerjaan fabrikasi, konstruksi, hingga perbaikan plat tipis. Sebagai manufaktur kawat las KOBELCO, PT Intan Pertiwi Industri memastikan produk kawat las RB-26 tersedia dalam berbagai ukuran agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek. Mengapa Pemilihan Ukuran Kawat Las Penting? Banyak welder pemula yang masih bingung, kenapa ukuran kawat las harus diperhatikan. Faktanya, pemilihan ukuran elektroda sangat berpengaruh terhadap: Kualitas Sambungan Las – Jika ukuran tidak sesuai dengan ketebalan material, lasan bisa retak atau tidak menembus sempurna. Efisiensi Waktu & Biaya – Ukuran kawat yang tepat membuat proses lebih cepat, menghemat energi, dan mengurangi konsumsi kawat. Kemudahan Pengelasan – Ukuran yang sesuai memudahkan pengendalian busur, terutama bagi welder yang belum berpengalaman. Kesalahan memilih ukuran RB-26 dapat menyebabkan hasil las kurang kuat atau bahkan gagal fungsi, terutama pada proyek konstruksi. Varian Ukuran Kawat Las RB-26 yang Tersedia Kawat Las RB-26 Diameter 2.0 mm Ukuran ini adalah yang terkecil dan umumnya digunakan untuk material sangat tipis, di bawah 2 mm. Aplikasi umum: Pekerjaan las ringan seperti kaleng, drum tipis, atau peralatan kecil Proyek hobi dan edukasi untuk latihan dasar pengelasan Perbaikan komponen tipis yang membutuhkan busur halus Kelebihan: sangat mudah dikendalikan, cocok untuk welder pemula, serta meminimalisir risiko tembus pada material tipis. Kawat Las RB-26 Diameter 2.6 mm Ukuran ini cocok digunakan untuk material dengan ketebalan 2–4 mm. Biasanya dipakai pada: Perbaikan plat tipis Pekerjaan rumah tangga atau bengkel kecil Fabrikasi ringan seperti pagar, kanopi, dan konstruksi ringan Kelebihan: penyalaan mudah, cocok untuk pemula, penetrasi rendah sehingga meminimalisir risiko tembus pada plat tipis. Kawat Las RB-26 Diameter 3.2 mm Ini adalah ukuran paling populer karena bisa digunakan pada berbagai jenis pekerjaan. Cocok untuk ketebalan plat 4–8 mm. Aplikasinya meliputi: Konstruksi umum (bangunan, rangka baja ringan, peralatan pertanian) Fabrikasi menengah Perbaikan mesin dan alat sederhana Kelebihan: seimbang antara penetrasi, kecepatan, dan hasil akhir yang rapi. Diameter ini sering direkomendasikan sebagai “all-around size”. Kawat Las RB-26 Diameter 4.0 mm Ukuran ini digunakan untuk material di atas 8 mm, seperti: Fabrikasi berat Konstruksi jembatan dan struktur baja Pekerjaan industri dengan beban tinggi Kelebihan: memberikan penetrasi dalam, cocok untuk menyambung plat tebal, serta efisien dalam mengisi celah besar. Kawat Las RB-26 Diameter 5.0 mm Ukuran terbesar, digunakan khusus untuk material sangat tebal, di atas 12 mm, yang membutuhkan kekuatan sambungan maksimal. Aplikasi umum: Proyek industri berat seperti tiang pancang, rangka baja pabrik, dan kapal Struktur dengan beban dinamis tinggi (jembatan besar, rangka crane, dan konstruksi pelabuhan) Kelebihan: mampu menyalurkan panas tinggi untuk penetrasi maksimal, sangat efisien dalam pengerjaan plat tebal, serta mempercepat pengisian celah pada sambungan lebar. Cara Memilih Ukuran Kawat Las RB-26 Dalam memilih ukuran kawat las RB-26, faktor utama yang perlu diperhatikan adalah ketebalan material serta jenis pengelasan. Semakin tebal material yang dilas, semakin besar pula diameter kawat yang dibutuhkan untuk menghasilkan penetrasi dan fusi yang optimal. Elektroda tipe RB ini juga dirancang fleksibel sehingga dapat digunakan pada posisi horizontal maupun di berbagai posisi pengelasan lainnya. 1. Perhatikan Ketebalan Material Ketebalan material adalah faktor paling utama dalam menentukan ukuran kawat las RB-26. Semakin tebal plat baja atau material yang akan dilas, semakin besar diameter kawat yang dibutuhkan agar penetrasi busur bisa maksimal. Plat tipis (2–4 mm) sebaiknya menggunakan RB-26 diameter 2.6 mm. Ukuran ini meminimalisir risiko material bolong atau distorsi akibat panas berlebih. Plat menengah (4–8 mm) lebih ideal memakai RB-26 diameter 3.2 mm. Ukuran ini seimbang, mampu menembus cukup dalam tanpa membuat lasan terlalu tebal. Plat tebal (>8 mm) harus menggunakan RB-26 diameter 4.0 mm. Ukuran besar ini mampu menghasilkan penetrasi kuat dan sambungan las yang kokoh untuk struktur berat. Dengan memperhatikan ketebalan material, Anda bisa menghindari kegagalan las akibat kawat yang terlalu kecil atau besar. 2. Sesuaikan dengan Posisi Pengelasan Selain ketebalan, posisi pengelasan juga memengaruhi pemilihan ukuran kawat. Pada posisi flat atau horizontal, hampir semua ukuran RB-26 bisa digunakan sesuai kebutuhan material. Namun, untuk posisi vertikal atau overhead, kawat dengan diameter lebih kecil (2.6 mm atau 3.2 mm) lebih direkomendasikan. Mengapa demikian? Karena kawat berdiameter kecil lebih mudah dikendalikan dan menghasilkan busur yang stabil pada posisi sulit. Hal ini membantu welder menjaga kualitas sambungan las meski bekerja dalam posisi tidak nyaman. 3. Atur Arus Las (Ampere) dengan Tepat Ukuran kawat harus selalu disesuaikan dengan pengaturan arus las. Jika arus terlalu kecil, kawat tidak akan menembus dengan baik dan lasan berisiko rapuh. Jika arus terlalu besar, hasil las bisa berpori, timbul spatter berlebihan, dan material mudah rusak. Panduan ampere ideal untuk RB-26: 2.6 mm → 60–90 A 3.2 mm → 90–130 A 4.0 mm → 130–160 A Dengan mengatur arus sesuai ukuran kawat, welder bisa mendapatkan busur yang stabil, penetrasi cukup, dan hasil las yang lebih rapi. 4. Sesuaikan dengan Aplikasi Proyek Jenis proyek yang dikerjakan juga menentukan ukuran kawat yang paling tepat: Perbaikan ringan dan fabrikasi kecil seperti pagar, rak besi, atau drum → gunakan RB-26 2.6 mm. Konstruksi umum dan fabrikasi menengah seperti rangka baja ringan, mesin pertanian, atau tangki berukuran sedang → gunakan RB-26 3.2 mm. Fabrikasi berat dan struktur baja seperti jembatan, tiang pancang, atau alat berat → gunakan RB-26 4.0 mm. Dengan menyesuaikan ukuran kawat dengan aplikasi proyek, hasil las akan lebih sesuai standar kekuatan dan keamanan
Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las untuk Pipa dengan Tepat

Panduan praktis cara menghitung kebutuhan kawat las untuk pipa baja. Ketahui rumus, estimasi, dan tips memilih kawat las pipa terbaik. Sebelum mulai menghitung kebutuhan material pengelasan pipa, pahami dulu dasar pemilihan jenis dan ukuran sesuai material, ketebalan, posisi, dan standar proyek. Gunakan panduan kawat las untuk proyek sebagai acuan awal, lalu lanjutkan ke langkah perhitungan agar estimasi lebih akurat dan minim risiko kekurangan material. Pengelasan pipa adalah pekerjaan yang menuntut ketelitian tinggi, baik dari sisi teknis maupun perencanaan material. Salah satu aspek penting yang sering diabaikan adalah perhitungan kebutuhan kawat las. Jika tidak dihitung secara akurat, material bisa kurang atau justru berlebih, yang akhirnya menambah biaya proyek. Artikel ini akan membahas cara menghitung kebutuhan kawat las untuk pipa dengan langkah-langkah sederhana, dilengkapi faktor teknis yang harus diperhatikan, hingga rekomendasi kawat las terbaik untuk aplikasi pipa. Mengapa Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las untuk Pipa Itu Penting? Menghitung kebutuhan kawat las untuk pipa bukan sekadar formalitas. Perhitungan ini memengaruhi efisiensi proyek secara keseluruhan. Dengan menghitung kebutuhan sejak awal, tim dapat memastikan stok kawat las sesuai dengan jumlah sambungan yang akan dikerjakan. Selain itu, perhitungan yang tepat membantu menghindari risiko kehabisan material di tengah pengerjaan. Dalam proyek besar seperti konstruksi pipa migas, keterlambatan akibat kekurangan material bisa berdampak pada jadwal kerja, biaya tambahan, dan bahkan penalti kontrak. Perhitungan kebutuhan kawat las juga penting untuk membuat estimasi biaya yang realistis pada tahap awal proyek. Sebelum menghitung kebutuhan kawat las untuk pipa, pahami dulu fungsi elektroda las karena jenis pelapis memengaruhi deposit rate, kestabilan busur, efisiensi pemakaian, dan akurasi perhitungan di lapangan. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Kawat Las pada Pipa Diameter dan Ketebalan Pipa Semakin besar diameter dan ketebalan pipa, semakin banyak logam las yang dibutuhkan untuk mengisi sambungan. Pada pipa berdinding tipis, kawat las yang diperlukan relatif lebih sedikit, sedangkan pipa berdinding tebal membutuhkan kawat las dalam jumlah lebih besar agar penetrasi sambungan kuat dan menyatu sempurna. Jenis Sambungan Las Pipa dan Posisi Pengelasan Jenis sambungan juga berpengaruh besar. Sambungan butt joint biasanya membutuhkan volume kawat las lebih banyak karena harus mengisi bevel di antara dua pipa. Fillet joint cenderung menggunakan kawat lebih sedikit. Posisi pengelasan pun berpengaruh. Pengelasan flat position umumnya lebih efisien, sedangkan pengelasan vertikal atau overhead membutuhkan kontrol lebih sulit sehingga konsumsi kawat bisa lebih tinggi. Efisiensi Proses dan Skill Welder Skill welder tidak bisa diabaikan. Welder yang berpengalaman mampu menjaga efisiensi penggunaan kawat dengan sedikit spatter dan hasil las yang konsisten. Sebaliknya, welder yang kurang terampil bisa menghasilkan waste lebih besar. Selain itu, efisiensi mesin las dan pengaturan parameter arus juga menentukan seberapa optimal kawat las digunakan. Rumus Dasar Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las untuk Pipa Menghitung kebutuhan kawat las dimulai dari menghitung volume logam las yang harus diisi, lalu dikonversi menjadi berat kawat las. Estimasi Volume Lasan pada Sambungan Pipa Volume lasan dapat dihitung dengan mengalikan keliling pipa, ketebalan pipa, dan faktor bevel. Keliling pipa dihitung dengan rumus π x OD, di mana OD adalah diameter luar pipa. Faktor bevel biasanya berada pada kisaran 1,2 hingga 1,5 tergantung sudut bevel yang digunakan. Sebagai contoh, pipa dengan OD 200 mm dan ketebalan 10 mm memiliki keliling 628 mm. Jika faktor bevel 1,2 maka volume lasan yang diperlukan adalah 628 x 10 x 1,2 = 7.536 mm³. Konversi Volume Lasan ke Berat Kawat Las Volume yang diperoleh kemudian dikonversi menjadi berat kawat las dengan mengalikan volume lasan dengan berat jenis baja, yaitu sekitar 7,85 g/cm³. Dari contoh di atas, volume 7.536 mm³ sama dengan 7,536 cm³. Hasil perkalian 7,536 x 7,85 adalah sekitar 59 gram kawat las untuk satu sambungan. Jika jumlah sambungan ada 100, maka kebutuhan kawat las total adalah 5,9 kg. Angka ini masih harus ditambah dengan faktor waste agar hasil lebih realistis. Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las untuk Pipa Menghitung kebutuhan kawat las untuk pipa adalah langkah penting sebelum memulai pekerjaan pengelasan, baik di proyek konstruksi, industri migas, maupun fabrikasi. Dengan perhitungan yang tepat, welder dan engineer dapat memperkirakan berapa banyak kawat las yang dibutuhkan, sehingga pengadaan material lebih efisien dan tidak ada pemborosan. 1. Tentukan Parameter Pipa yang Akan Dilas Beberapa data dasar yang harus diketahui: Diameter luar pipa (OD – Outside Diameter) Ketebalan dinding pipa (t) Panjang sambungan yang akan dilas (L) Jenis sambungan → butt joint, fillet joint, atau bevel. Parameter ini akan menentukan volume logam las yang harus diisi. 2. Hitung Volume Logam Las yang Dibutuhkan Rumus umum Keliling pipa: C = π × OD (mm) Volume las: V = C × t × k (mm³) Keterangan OD = outside diameter / diameter luar pipa (mm) t = tebal pipa (mm) k = faktor bevel (≈ 1,2 – 1,5, tergantung sudut bevel & gap) Contoh perhitungan OD = 200 mm t = 10 mm Ambil k = 1,2 Langkah: C = π × OD = 3,14 × 200 = 628 mm V = C × t × k = 628 × 10 × 1,2 = 7.536 mm³ Hasil: Volume logam las ≈ 7.536 mm³ per sambungan(= 7,54 cm³ jika dikonversi ke cm³) Catatan: Nilai k naik jika sudut bevel lebih besar atau ada root gap; gunakan rentang 1,2–1,5 sesuai desain kampuh. 3. Konversi Volume ke Berat Kawat Las Rumus umum Berat kawat (gram) = Volume las (cm³) × Berat jenis logam (g/cm³) Untuk baja karbon, ambil ρ ≈ 7,85 g/cm³. Konversi satuan 1 cm³ = 1.000 mm³ ⇒ V(cm³) = V(mm³) ÷ 1.000 Contoh (lanjutan dari sebelumnya) Volume las: 7.536 mm³ Ubah ke cm³: 7.536 ÷ 1.000 = 7,536 cm³ Berat jenis baja karbon: 7,85 g/cm³ Hitung berat per sambungan: Berat = 7,536 × 7,85 = 59,16 gram(≈ 59 gram per sambungan) Jika ada 100 sambungan: Total ≈ 59,16 g × 100 = 5.916 g = 5,92 kg(≈ 5,9 kg kawat las) Catatan praktis: angka di atas adalah teori volume. Di lapangan, kebutuhan bisa lebih besar tergantung efisiensi deposisi (SMAW ~60–70%, GMAW/FCAW ~80–90%), spatter, dan penggerindaan. Jika perlu, kalikan hasil akhir dengan faktor efisiensi yang sesuai. 4. Tambahkan Faktor Kehilangan (Waste Factor) Dalam praktiknya, selalu ada losses karena spatter, slag, atau kesalahan las.
