Beranda / Teknologi Las / Perbedaan Las Argon dan Las Listrik: Panduan Lengkap

Perbedaan Las Argon dan Las Listrik: Panduan Lengkap

Perbedaan las argon dan las listrik sering jadi pertanyaan pertama sebelum mulai ngelas, karena keduanya menghasilkan sambungan yang terasa “beda kelas” dari segi kerapian, kontrol panas, sampai biaya kerja. 

Di artikel ini, kamu akan melihat perbandingan yang jelas dan praktis agar bisa memilih metode paling cocok sesuai material, ketebalan, dan kebutuhan hasil akhir.

Perbedaan las argon dan las listrik sering menjadi topik utama bagi pemula hingga praktisi pengelasan yang ingin menentukan metode paling tepat untuk pekerjaan mereka. 

Pemilihan proses las tidak hanya memengaruhi tampilan hasil sambungan, tetapi juga kekuatan, risiko cacat, efisiensi biaya, dan kemudahan pengerjaan. 

Dengan memahami karakter masing masing metode, pengguna dapat menyesuaikan teknik pengelasan dengan jenis material, ketebalan, serta tuntutan kualitas pekerjaan.

Pengertian Las Argon dan Las Listrik

Las argon dikenal sebagai proses pengelasan yang menggunakan gas pelindung argon untuk melindungi kolam las dari kontaminasi udara. Metode ini sering disebut TIG atau GTAW dan identik dengan hasil las yang rapi serta presisi tinggi.

Las listrik umumnya merujuk pada metode pengelasan SMAW yang memakai elektroda berlapis flux. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung saat proses pengelasan berlangsung sehingga tidak memerlukan gas tambahan.

Untuk memahami pilihan elektroda yang tepat pada las listrik, baca panduan kawat las SMAW.

Perbedaan Las Argon dan Las Listrik

Apa perbedaan las argon dan las listrik? yuk pahami dibawah ini:

1. Sumber Panas dan Gas Pelindung

Las Argon

Proses ini menggunakan busur listrik antara elektroda tungsten non consumable dan material. Gas argon murni dialirkan untuk melindungi kolam las dari oksidasi sehingga hasil sambungan lebih stabil.

Las Listrik

Metode ini tidak membutuhkan tabung gas. Perlindungan kolam las berasal dari flux pada elektroda yang meleleh lalu membentuk gas dan terak sebagai pelindung alami.

2. Elektroda dan Filler

Las Argon

Elektroda tungsten tidak ikut meleleh. Bahan pengisi ditambahkan terpisah sesuai kebutuhan dan jenis material sehingga kontrol komposisi logam las lebih baik.

Las Listrik

Elektroda habis terpakai selama proses pengelasan dan sekaligus berfungsi sebagai filler metal.

3. Kualitas dan Tampilan Hasil Las

Las Argon

Hasil las cenderung bersih dan halus, presisi tinggi, hampir tanpa spatter, serta risiko oksidasi sangat minim sehingga cocok untuk pekerjaan dengan tuntutan visual dan kualitas tinggi.

Las Listrik

Hasil sambungan relatif lebih kasar dibanding las argon, terdapat terak yang perlu dibersihkan, dan spatter lebih banyak terutama jika setting arus kurang tepat.

4. Kontrol Panas

Las Argon

Kontrol panas sangat presisi sehingga ideal untuk material tipis dan pekerjaan detail yang memerlukan stabilitas kolam las.

Las Listrik

Kontrol panas lebih kasar dan berisiko menyebabkan burn through pada material tipis apabila ampere terlalu besar.

5. Material yang Cocok

Las Argon

Umumnya dipilih untuk stainless steel, aluminium dan aluminium alloy, baja tipis, serta aplikasi presisi seperti pipa sanitary dan pressure part.

Las Listrik

Lebih sesuai untuk baja karbon, baja struktural, serta pekerjaan konstruksi umum dan fabrikasi lapangan.

6. Tingkat Kesulitan

Las Argon

Lebih sulit dikuasai karena membutuhkan koordinasi tangan, filler, dan kontrol panas yang konsisten.

Las Listrik

Lebih mudah dipelajari sehingga sering menjadi pilihan awal bagi pemula dan praktis untuk pekerjaan di lapangan.

7. Biaya dan Peralatan

Las Argon

Membutuhkan mesin khusus dengan harga lebih tinggi, tabung argon, dan biaya operasional yang relatif besar.

Las Listrik

Mesin las lebih ekonomis, tidak memerlukan gas eksternal, dan biaya operasional lebih rendah untuk kebutuhan umum.

Kesimpulan

Perbedaan las argon dan las listrik terletak pada sistem pelindung, jenis elektroda, kontrol panas, kualitas hasil, serta biaya dan tingkat kesulitan. 

Las argon unggul untuk pekerjaan presisi dengan tuntutan hasil rapi dan minim cacat, sedangkan las listrik lebih praktis dan ekonomis untuk konstruksi umum. 

Dengan memahami karakter masing masing metode, pengguna dapat memilih proses pengelasan yang paling sesuai dengan material, ketebalan, dan kebutuhan aplikasi sehingga hasil kerja lebih optimal.

Jika Anda ingin memastikan pemilihan metode las, elektroda, atau kawat las yang tepat untuk kebutuhan proyek Anda, segera hubungi kami melalui layanan kontak yang telah kami sediakan untuk mendapatkan referensi produk, panduan aplikasi, dan dukungan teknis yang relevan dengan kebutuhan pengelasan industri maupun bengkel.

FAQs

Apa perbedaan utama las argon dan las listrik?

Perbedaan utamanya ada pada sistem pelindung dan kontrol proses. Las argon memakai gas argon dan tungsten sehingga hasil lebih bersih dan presisi, sedangkan las listrik memakai elektroda berflux yang menghasilkan terak dan spatter lebih banyak.

Keduanya bisa sama sama kuat jika prosedur dan materialnya tepat. Las argon unggul pada kontrol dan kualitas visual, sementara las listrik unggul untuk pekerjaan konstruksi umum karena lebih praktis dan fleksibel di lapangan.

Pilih las argon saat butuh hasil rapi, minim cacat oksidasi, dan kontrol panas presisi, terutama untuk stainless steel, aluminium, material tipis, atau sambungan yang menuntut tampilan bersih.

Bisa, tetapi lebih menantang. Pada material tipis ada risiko tembus jika ampere tidak tepat, dan pada stainless hasil cenderung lebih banyak spatter serta perlu pembersihan terak, sehingga las argon sering lebih disukai untuk kebutuhan rapi.

Karena membutuhkan mesin yang umumnya lebih mahal, memakai tabung gas argon, dan biaya operasionalnya lebih tinggi. Las listrik lebih ekonomis karena tidak memerlukan gas eksternal dan peralatannya lebih sederhana.

Artikel Lainnya

Sertifikat ISO

ISO 9001:2015

ISO 14001:2015

© 2026, PT. Intan Pertiwi Industri | Semua Hak Cipta Dilindungi.

Social Sticky